|
Dear all, Anak yang dari kecil hidup dengan kemudahan akan menganggap bahwa hidup itu serba mudah. Segala sesuatu bisa diperoleh dengan mudah tanpa bersusah payah. Akibatnya dia berpikir bahwa kepandaian bisa diperoleh tanpa perjuangan. Disetiap kehidupan rumah tangga benda yang sentral adalah TV. TV pasti menyala setiap sore dan malam. TV menjadi pusat hiburan keluarga. Disitu tidak ditemukan rak buku sama sekali, bahkan buku bacaanpu tidak ada. Yang ada hanya buku telepon. Anak yang tumbuh dalam keluarga itu beranggapan bahwa dunia hiburan lebih penting daripada dunia persekolahan. Jangan heran bila anak memilih bersenang-senang daripada bersusah payah belajar. Ingin jadi pandai,tetapi belajarnya tidak bersungguh-sungguh. Tidak mungkin otak kita mengolah atau menyimpan bahan bila pikiran kita sedang melayang ketempat lain. Dia sulit berkonsentrasi karena ingin serba gampang.Lebih senang bermain daripada belajar.
Bermain memang penting,karena itu dunia anak-anak.Mainan dibutukan tiap anak untuk menumbuhkan kreativitas atau aktivitas fisik. Tetapi anak yang memiliki terlalu banyak mainan bisa terganggu lebih senang bermain dp belajar. Mainan yang menyebabkan anak duduk terpaku berjam-jam lamanya bisa merugikan seperti PS di warnet.Mereka tahan duduk sampai berjam-jam tanpa disadari bisa mengganggu kesehatannya,mata kena radiasi karena terus menerus matanya tertuju ke layar/monitor komputer. Sikap jalan pintas juga sering terlihat pada orangtua. Orangtua ingin anaknya pandai tetapi tidak memperhatikan urusan sekolah.Undangan untuk pertemuan orangtua dan guru sering diabaikan . Yang datang hanya ibu,sebab ayah mempunyai urusan yg lebih penting. Akibatnya anak itu mendapat kesan bahwa sekolah kurang penting. Sikap orangtua yang menawar uang pangkal dan uang sekolah juga bisa mempengaruhi prestasi belajar anak disekolah. Anak akan menjadi bingung. Kata papa,sekolah itu penting,tetapi uang sekolah ditawar-tawar,padahal kalau belanja ditoko,papa tidak pernah menawar. Seharusnya para orangtua berkata kepada anak,"Uang sekolahmu mahal,simpanan kita tidak banyak. tetapi papa,mama rela mengeluarkan simpanan kita di bank untuk membayar uang pangkal,uang sekolah,sebab pelajaran kamu penting demi masa depanmu." Uang sekolah diperlukan untuk biaya hidup para guru yang mendidik anak-anak. Ada juga orangtua kurang menopang suasana belajar anak.Ketika anak sedang belajar,orangtua menonton TV.Anak bisa terganggu dan berpikir,"Lebih enak tidak sekolah,malam bisa nonton TV,tidak usah membuat PR".Kalau kita mau anak pandai,kita harus mengorbankan kesenangan nonton TV. Yang sangat diperlukan adalah menciptakan suasana belajar dengan cara kita ikut belajar yaitu membaca buku. Minat baca adalah dasar semangat belajar. Kita bisa menumbuhkan minat belajar anak dengan memberi teladan gemar membaca. beberapa reset membuktikan bahwa murid yang berprestasi adalah anak yang orangtuanya gemar membaca. Kesimpulan dari sikap diatas menunjukkan bahwa mental jalan pintas pada diri siswa dan orang tua adalah ingin pandai tetapi tidak mau menderita(Bersusah payah). Korelasi itu dapat dilihat dalam diri Yesus yg ditulis di Ibrani 5:8 yang berkata:" Yesus:"...sekalipun Ia adalah Anak,Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang dideritaNya. Yesus tidak mencari penderitaan,tetapi Ia juga tidak menolak penderitaan. yang dilakukannya ialah memanfaatkan penderitaan sebagai sarana belajar,yaitu belajar menjadi taat.Dalam diri Yesus bertemu penderitaan yang kreatif dan pelajaran yang produktif. Orang yang mau belajar adalah ang yang mau menderita. Untuk belajar tidak ada jalan pintas. Berakit-rakit kehulu,berenang-renang ketepian.Bersakit-sakit dahulu,bersenang-senang kemudian. Kita tidak menginginan menderita dahulu,susah kemudian.Itu sama saja perbuatan sia-sia. Amsal berkata" Sia-sialah orang bekerja keras tanpa memiliki hati yang bijak. Walsinur Silalahi
Trackback(0)
 |