|
Ditulis oleh Walsinur Silalahi
|
|
Selasa, 11 Januari 2011 12:06 |
|
Aku memiliki dua anak yang cerdas dan sangat hormat kepada saya sebagai mama yang melahirkannya. Aku menginginkan anakku ini menikah dengan pria batak yang smart juga. 20 tahun lalu saya menikah dengan lain suku,dan keputusanku ini sangat bertentangan dengan orangtuaku dan dengan tegas mereka menolak keputusanku. Aku bergumul dan dengan bulat hati memilih pria itu sebagai suamiku.Dia berlainan agama dengan saya.Tetapi itu bukan halangan bagi kami untuk melangsungkan pernikahan di CS(catatan sipil).Waktu itu kami berdua berkomitmen untuk saling menghormati agama masing-masing. Setelah kami resmi menjadi suami isteri,aku tersisih dari keluargaku.Aku tidak peduli atas penolakan mereka.Dengan berbagai usaha saya selalu mengajari suamiku agar bisa eksis dalam keluargaku.Dengan berjalannya waktu,kehidupan ekonomi kami cepat meningkat.
Usaha sampingan saya mengelola angkutan metromini berjalan lancar. Saya memiliki 10 bis metromini. Saya juga bekerja sebagai tenaga kesehatan di Pemda DKI. Sikap orangtuaku yang tadinya sinis melihat kami berobah total 100 derajad.Sikap mereka menjadi cair setelah kami dikaruniakan 2 anak. Satu wanita dan satunya lagi laki-laki. Karena uang cukup,saya juga tidak berpikir panjang membantu keluarga suamiku yang hidupnya berkekurangan. Boleh dikatakan saya dapat mengangkat martabat suamiku yang kehidupan keluarganya pas-pasan.Mobil yang dikendarai suamiku juga bergengsi. Dari dulu saya suka berpenampilan modis. Dan suamiku juga saya buat sebagai suami yang trendy. saya memilihkan baju, celana yang up to date kepadanya. Saya tidak sadar dengan gaya yang trendy, penampilan yang elegan..suamiku mulai bertindak aneh. Dia sering main billiard, pulang larut malam.Saya berusaha bersikap sebagai isteri yang baik melayani suami. Bila dia minta dimasak nasi goreng jam 02 dinihari,saya tetap melakukannya dengan enjoy. Setiap main billiard selalu minta duit 5 jutaan untuk keperluannya. Suatu ketika dia mengajak saya agar pindah agama saja dan ikut suamiku. Alasannya dia adalah kepala keluarga. Jadi harus ikut dia. Mulai saat itu kehidupan rumahtangga kami seperti api dalam sekam.Saya tetap berprinsip tidak akan mau menjual Yesus hanya karena ingin ikut agama suamiku. Saya melarangnya masuk kekamar tidurku. Lalu dia mengusirku dari rumah.Kedamaian tidak ada lagi dirumah. Anak- anak sudah beranjak dewasa dan sudah lepas sidi. Pernah suamiku mau celurit saya bila tidak mau ikut dia. Saya tetap bertahan..dan tidak akan mau..sekalipun aku dibunuh.Melihat ketegaran saya mempertahankan iman, dia sengaja membawa seorang wanita didalam mobilnya dan parkir didepan rumah. Saya gak tahan melihat dan saya jatuh sakit dan diopname selama satu bulan. Setelah sembuh,saya tidak mau kembali kerumah sebelum suamiku keluar dari rumah. Kakak saya turun tangan menangani masalahku,dan mengadukan suamiku ke pengadilan dengan tuduhan kekerasan dalam rumah tangga. Kedua anakku juga membela saya dan meminta agar suamiku keluar dari rumah.Berhubung anak sendiri mendesak ayahnya, akhirnya suamiku mau keluar dengan syarat harta gono-gini harus dibagikan. Boleh dikatakan harta yang kami raih adalah atas usahaku sendiri.Tetapi untuk kedamaian batin ini..saya setujui saja dibagikan asal dia tidak bersama kami lagi. Sebenarnya keluarga kami bisa aman dan damai bila saya rela dimadu dan pindah agama. Saya memutuskan mengambil jalan terpahit tidak bersuami daripada saya meninggalkan Yesus. Ini adalah kesaksian saya pribadi dan saat ini saya hidup single parent bagi kedua anakku. Saya tidak memilih laki-laki lain.Karena bagiku pernikahan itu adalah sakral. Aku bangga dapat melewati yang terpahit dalam hidupku dan senang melihat kedua anakku yang cerdas dan akrab bergaul dengan keluargaku. Adalah suatu kebanggaan bagiku bila anakku menikah dengan putra/putri batak yang bertanggung jawab dan takut Tuhan.Inilah doaku setiap malam. Kesaksian ini diutarakan oleh sahabat saya sewaktu kami sama-sama kuliah.Begitulah kehidupan ini dimana harta bukanlah segalanya malah bisa membawa perpecahan keluarga.Saya kagum akan sikap temanku ini yang tidak mau meninggalkan Yesus hanya untuk memenuhi kehendak suaminya yang bertentangan dengan imannya. (Friday, September 18, 2009 5:46 PM) Salam Walsinur Silalahi
Trackback(0)
 |