| Komitmen untuk mengasihi kebenaran (4 End) |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin | |
| Jumat, 19 November 2010 23:18 | |
|
Orang-orang berkata kepada saya, "Jika Anda melakukan hal itu, mereka yang sedang Anda latih itu akan kehilangan kepercayaan mereka terhadap Anda." Saya tidak ingin agar mereka percaya kepada diri saya. Mereka harus yakin pada kebenaran saja. Mereka harus yakin kepada Allah saja. Malahan, salah satu dari mereka yang ikut pelatihan meninggalkan pelatihan itu saat dia mendengar bahwa saya secara terbuka mengoreksi diri saya. Jika mereka mengerti, dari contoh itu, bahwa mereka harus berkomitmen pada kebenaran lebih daripada terhadap diri saya, maka pelatihan mereka menjadi bernilai. Kita harus mengasihi kebenaran dan tidak membawa sikap seperti para imam kepala serta ahli-ahli kitab itu. Kita tidak boleh memiliki sikap hati seperti mereka. Kita tidak boleh berkata, "Bagaimana sebaiknya kita menjawab pertanyaan ini?" Kita harus mengatakan kebnearan. Kita harus mengejar kebenaran dengan gigih. Dapatkah kebenaran itu diketahui? Namun inilah masalahnya. Ada orang yang mungkin saja berkata, "Dapatkah kita sesungguhnya mengetahui kebenaran? Bisa jadi itu hanya pendapat orang saja." Banyak orang Kristen yang begitu pesismis sehingga mereka tidak berani lagi meyakini bahwa kebenaran itu bisa diketahui. Mereka berkata, "Nah, itu semua hanya masalah pendapat saja. Anda bisa saja mengatakan halnya seperti ini, lalu orang lain berkata lain lagi." Maksudnya, kebenaran itu kemudian menjadi tidak bisa benar-benar diketahui; tidak bisa dikenali. Ini adalah situasi yang sangat menyedihkan. Jika kebenaran memang tidak bisa diketahui, maka kita orang-orang Kristen ini adalah orang-orang yang paling perlu dikasihani! Kita adalah orang-orang yang paling menyedihkan di antara orang lain jika kebenaran itu tidak bisa diketahui. Apakah Anda yakin bahwa kebenaran itu tidak bisa diketahui? Jika Anda berpandangan: isi perikop ini hanya sekadar suatu pendapat saja, dan ayat yang lain juga suatu pendapat saja, lalu pendapat Anda mungkin sama bagusnya dengan pendapat orang lain, lalu ayat ini dipandang seperti ini dan ayat itu dipandang seperti itu, lalu apa gunanya menjadi orang Kristen? Karena tentunya, kita tidak sedang membicarakan hal yang dangkal. Kita sedang berbicara tentang prinsip-prinsip keselamatan. Dengan pandangan semacam itu, berarti kita sedang berbicara tentang hal yang lebih penting lagi: kita sedang berkata bahwa Allah membiarkan kita berada dalam kebingungan. Allah telah membuat kebenaran itu menjadi mustahil untuk diketahui. Dia tidak menyatakan kebenaran itu kepada kita. Dan jika Dia tidak ingin menyatakan kebenaran itu kepada kita, apa gunanya menjadi orang Kristen? Satu orang berkata bahwa kita diselamatkan melalui cara ini, dan yang lain berkata bahwa kita diselamatkan lewat cara lain. Kita tidak sedang berbicara tentang hal yang dangkal; kita sedang berbicara tentang keselamatan. Dan, contoh lagi, ketika beberapa waktu yang lalu saya berbicara tentang Watchman Nee, mengenai salah satu ekpsosisinya, saya berbicara dalam lingkup keselamatan. Kita tidak sedang mebicarakan pribadi seseorang. Mereka adalah orang-orang yang lebih baik daripada saya. Namun jika ada eksegesis mereka yang keliru, dengan pertolongan Allah akan hal ini, maka saya akan menyatakannya. Dan jika ada orang yang tersinggung akan hal itu, maka saya mohon maaf. Saya berkomitmen untuk membela kebenaran. Dan jika ada orang yang bisa menunjukkan kesalahan saya, saya beritahu Anda, maka saya akan berterima kasih kepadanya, saya akan merangkulnya dengan sepenuh hati. Dan saya ingin agar Anda menjadi saksi. Saya menantikan sekian tahun kalau-kalau ada orang yang menunjukkan kekeliruan dalam eksegesis saya, tak peduli sekecil apapun itu, namun belum ada orang yang melakukan hal itu. Tak ada. Saya masih tetap menanti, dan saya menyatakan ini dengan tulus, bahwa saya akan menyambut mereka dengan penuh hormat. Bagaimana pendapat Anda? Apakah kita akan menuruti pendapat orang? Apakah menjadi seorang Kristen hanya sekadar masalah memilih di antara berbagai macam pendapat? Apakah separah itu? Saya yakin bahwa hanya ada satu kebenaran. Karena kebenaran itu tidak mungkin berupa ya dan tidak secara bersamaan, sebab Yesus berkata, "Katakanlah ya jika memang ya, katakanlah tidak jika memang tidak." Namun sekarang ini, kita cenderung membenarkan semua pendapat. Baiklah, jika tidak suka dengan pendapat Chang, maka cobalah pendapat Nee, dan jika Anda tidak suka dengan Nee, maka cobalah Calvin, dan jika Anda tidak suka Calvin, maka cobalah Luther, silakan pilih. Lalu apa gunanya menjadi orang Kristen? Situasi kita menjadi tanpa harapan. Bagaimana saya bisa tahu bahwa yang ini tidak salah atau yang satunya lagi benar? Bagaimana saya bisa tahu? Bisa saja saya ini lalu menjadi orang buta yang mengikuti pimpinan orang buta lainnya, dan kami sama-sama jatuh di satu lubang. Ini bencana! Anda harus berkomitmen kepada Tuhan untuk mengenali kebenaran yang mutlak penting itu Anda harus bisa membedakan, saudara-saudari, apakah saya ini menyatakan kebenaran atau tidak. Jika Anda merasa sedikit saja tidak yakin, sedikit saja ragu bahwa hal yang saya sampaikan ini adalah kebenaran, maka sudah menjadi kewajiban Anda untuk tidak mendengarkan saya. Sudah menjadi tugas Anda untuk datang dan berkata kepada saya, "Saya tidak mau mendengarkan hal ini lagi karena saya melihat bahwa ini bukanlah kebenaran." Kebenaran adalah hal yang mutlak penting. Namun saya yakin bahwa Allah tidak membiarkan kita berada dalam kegelapan, saudara-saudari. Dia telah menyatakan kebenaran itu kepada kita. Malahan, Paulus menambahkan lagi, Dia ingin agar kita semua sampai pada pengenalan akan kebenaran. Saya tidak pesimis karena saya percaya kepada Allah, bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita di dalam kegelapan. Apa gunanya berkata, "Yesus akan memimpin saya ke dalam kebenaran," hal yang dia sampaikan di dalam Yoh 16:13, lalu kita dibiarkan berada dalam kebingungan? Pada kebenaran macam apakah kita ini dibawa? Lalu mengapa kita berhadapan dengan persoalan-persoalan? Karena kurangnya komitmen pada kebenaran. Dan saya akan terus mengulangi hal ini sekalipun Anda merasa telinga Anda sudah jenuh karena saya terus saja berkata, "Kebenaran, kebenaran, kebenaran," sampai Anda lelah mendengar kata 'kebenaran'. Saya harap Anda tidak menjadi lelah mendengar kata 'kebenaran'. Anda tidak akan pernah cukup mendengarkannya. Kurangnya kasih pada kebenaran membawa pada dogmatisme dan perselisihan Mari kita masuk pada petanyaan utama kita: apakah komitmen pada kebenaran, kasih pada kebenaran ini, tidak akan mebawa kita pada dogmatisme? Apakah hal itu tidak akan membawa kita pada fanatisme? Tidakkah hal itu akan membawa kita pada kekakuan sikap? Tidakkah pergumulan dan perselisihan itu timbul karena orang-orang berkeras bahwa dia sedang menyampaikan kebenaran? Jawaban saya tidak. Bukan kasih pada kebenaran yang membawa pada dogmatisme dan ketegangan. Kurangnya kasih pada kebenaran, saudara-saudari, yang justru membawa kita pada dogmatisme dan perselisihan. Setiap orang yang berkata bahwa kasih pada kebenaran akan membawa pada dogmatisme hanya membuktikan bahwa dia tidak tahu apa semangat dari mengasihi kebenaran itu. Mengasihi kebenaran tidak akan mungkin membawa pada dogmatisme. Sikap hati seseorang yang berkomitmen pada kebenaran tidaklah dogmatik Lihatlah dari sisi ini, jika Anda dan saya berbeda pandangan tentang satu hal, namun Anda dan saya sama-sama berkomitmen untuk mengasihi kebenaran, sama-sama berkomitmen - tanpa syarat, secara tulus, mengasihi kebenaran, tidakkah Anda melihat bahwa dasar kita yang sama dalam hal mengasihi kebenaran itu jauh lebih kuat daripada segala perbedaan pandangan akan sebuah masalah tertentu? Semangat yang menyatukan pada diri masing-masing telah menyatukan hati kita yang bersama-sama mengejar kebenaran. Tak peduli sebesar apapun ketidakcocokan itu akan bisa diluruskan oleh semangat yang sama-sama mengasihi kebenaran. Dengan kata lain, dasar kecocokan kita jauh lebih besar daripada unsur-unsur yang tidak cocok itu. Saya tidak akan pernah berselisih dengan orang yang mengasihi kebenaran. Saya selalu katakan, karena saya bergemar di dalam kebenaran, maka saya akan senang jika saya dikoreksi. Saya akan senang untuk dikoreksi karena saya ingin mengenal kebenaran. Oleh karena itu, dari mana konflik akan muncul? Dari mana perselisihan akan muncul? Perselisihan muncul dari fakta bahwa saya berkeras membela kepentingan saya, bukan pada kebenaran melainkan pada kepentingan saya. Saya tidak mau memaksakan kepentingan saya; saya tidak punya kepentingan untuk dipertahankan. Jika ada orang yang bisa menunjukkan kepada saya, berdasarkan eksposisinya di dalam Firman Allah, akan suatu kebenaran, maka dengan senang hati saya akan mengakui dan dengan sukacita saya akan menerima petunjuk dari orang tersebut. Jadi, dari sini kita bisa melihat beberapa hal. Orang yang berkomitmen pada kebenaran, sikap hatinya akan sangat berbeda. Dia bukan orang yang dogmatis. Dia akan selalu bersedia mendengar pendapat orang lain. Saya sampai pada suatu kesimpulan setelah dengan cermat saya merenungkan berbagai macam alternatif yang bisa diteliti dan diuji. Saat saya menolak doktrin John Calvin tentang predestinasi, hal itu tidak saya lakukan tanpa menelaah uraiannya tentang predestinasi. Saya telah meneliti dengan cermat apa yang disampaikan oleh doktrinnya itu, apakah isinya berlandaskan pada Kitab Suci atau tidak. Dan, baru setelah melalui pertimbangan yang sangat teliti, setelah melakukan eksegesis yang sangat melelahkan, barulah saya mengungkapkan kekeliruannya itu, saya telah menuliskan hal itu di dalam buletin agar bisa dilihat oleh semua orang. Jika ada orang yang bisa menemukan cacat pada eksegesis di mana saya tunjukkan bahwa pemahaman John Calvin mengenai predestinasi itu tidaklah alkitabiah, saya siap mendengar. Ada banyak pengikut Calvin akan tetapi sampai sekarang saya belum mendengar apa tanggapan mereka, maka saya persilakan Anda tunjukkan cacat itu. Tunjukkan di mana kira-kira kesalahan eksegesis saya. Dengan senang hati saya akan mendengarkannya; saya akan berterima kasih kepada mereka. Tak ada unsur konflik sama sekali. Tak ada hal yang berkaitan dengan unsur pribadi di sini. Sangatlah penting untuk memahami hal ini. Orang yang mengasihi kebenaran tidak begitu saja melompat pada kesimpulan Kedua, orang yang mengasihi kebenaran itu sangatlah berhati-hati di dalam analisisnya. Dia tidak begitu saja melompat pada kesimpulan; dia periksa dan periksa lagi, dia uji dan uji lagi. Tidak ada satu apa pun yang saya ucapkan dari atas mimbar ini yang belum saya memeriksa dan mengujinya karena pernyataan-pernyataan ini akan sangat besar konsekuensinya. Jika Anda menguji eksposisi seseorang dalam pokok tertentu, maka Anda harus bertanggung jawab atas pernyataan Anda. Anda harus bisa membuktikan setiap ucapan Anda. Oleh karena itu, Anda tidak akan berbicara sekenanya saja. Anda tidak akan pernah berbicara sembarangan dan tanpa tanggung jawab. Itulah hal-hal yang saya harap agar Anda renungkan baik-baik, saudara-saudari. Tanyakanlah diri Anda, jauh di dalam hati Anda, "Seperti apa komitmen saya pada kebenaran?" Jika Anda melakukan hal ini, maka berkat Allah akan tercurah pada diri Anda lewat cara yang ajaib. Komitmen untuk mengasihi kebenaran: membongkar kepalsuan dengan gigih Bagaimana kita akan melangkah maju dalam kekudusan? Dengan cara membongkar dosa. Apakah dosa itu? Dosa adalah ketidakbenaran, kepalsuan. Oleh karena itu, satu-satunya cara bagi Anda untuk bisa melangkah maju dalam keudusan adalah dengan membongkar semua itu dengan gigih. Perlakukanlah diri Anda sendiri dengan disiplin yang tegas. Orang yang mengasihi kebenaran biasanya bersikap sangat keras pada diri mereka sendiri. Dia akan menguji setiap motivasinya. Renungkanlah aspek yang satu ini. Banyak orang mengaku bahwa mereka mengasihi kebenaran namun Anda bisa lihat dari perilaku mereka bahwa sebenarnya mereka tidak mengasihi kebenaran. Mengapa? Karena mereka sangat mudah tersinggung; mereka sangat sensitif. Apakah Anda sangat mudah tersinggung dan sensitif? Itu adalah tanda yang pasti bahwa Anda tidak mengasihi kebenaran. Apakah Anda bisa dengan mudah dikoreksi? Apakah Anda selalu siap belajar? Kitab Suci berkata, jika Anda menegur seorang yang bijak, maka dia akan mendapat tambahan pengetahuan. Menegur seorang yang bijak berarti membuatnya bertambh bijak, dan dia akan bersyukur akan hal itu. Namun janganlah menegur seorang pencemooh, janganlah menegur seorang bodoh karena dia akan membenci Anda. Perhatikanlah sikap hati yang berbeda ini, perbedaan yang mendasar di dalam sikap hati mereka! Mari kita pahami bahwa jika kita ingin tahu bahw Allah itu benar, jika kita ingin melangkah maju di dalam kehidupan rohani kita, kita harus memiliki komitmen tanpa kompromi untuk mengasihi kebenaran! Khotbah oleh Pendeta Eric Chang SELESAI Sumber: Cahaya Pengharapan Ministry www.cahayapengharapan.org
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 1338 Trackback(0)
Comments (0)
![]() Write comment
|


















