|
Ditulis oleh Walsinur Silalahi
|
|
Senin, 05 Juli 2010 15:33 |
|
Ibu itu menunggu gerobak dagangannya,sambil membaca sebuah Alkitab kumal.Kulit disekitar matanya terlihat hitam karena kurang tidur.Maklumlah,dia menjajakan dagangannya sampai larut malam.Mukanya berkerut menandakan perjuangannya yang berat untuk menghidupi kelima anak-anaknya yang ditinggal pergi suami. Saya duduk disampingnya sambil minum teh botol dan berbincang-bincang tentang kehidupannya.Cerita itupun mengalir dengan lancar sambil mengusap sesekali matanya karena teringat masa perjuangnannya mengurus anak-anak yang ditinggal sang ayah. Anak-anakku masih kecil saat suamiku meninggal dunia.Saya tidak mempunyai keahlian untuk mencari nafkah.Gelap rasanya aku melihat dunia ini.Dalam kegelapan demikian aku berseru minta pertolongan dari Tuhan agar saya diberikan kemampuan mengurus anak-anak yang ditinggalkan suamiku. lalu saya melakukan hal-hal kecil yang bisa menghidupi makan sehari-hari.Kuputuskan berdagang teh botol dan rokok ketengan dengan gerobak dorong.Setiap hari saya berjualan di sekitar Ruko Kalimalang.
Saya percaya saja bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kami terlunta-lunta bila kami mau bekerja.Dari hasil dagangan ini,kebutuhan pangan kami terpenuhi sekalipun dengan makanan sederhana.Kegiatan inilah saya lakukan hingga anak-anak saya dewasa. Dan puji Tuhan kelima anak saya sudah menikah,dan saya sangat bersyukur karena mereka sudah mandiri semua. Suatu ketika ,saya berbicara kepada kelima anakku bahwa saya ingin menjual rumah dengan alasan agar tidak ada perselisihan diantara mereka kelak bila saya sudah meninggal.Rumah tersebut adalah peninggalan suamiku satu-satunya. "Mengapa dijual bu?",tanya anak saya yang sulung.Lalu saya menjawab bahwa lebih baik dijual untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan kelak. Akhirnya mereka setuju dengan syarat semua anak-anak harus dapat bagian.Rumah laku seharga 200 juta rupiah dan saya memutuskan bagi dua yaitu 100 juta buat anak-anak dan 100 juta buat kebutuhan saya.Dengan demikian kelima anakku mendapat masing-masing 20 Juta. Saya sarankan kepada anak-anakku agar uang tersebut digunakan untuk DP rumah,dan cicilan sebulan,mereka tanggung sendiri.Mereka puas,saya juga bahagia. Saya punya prinsip agar saya tidak menjadi beban buat anak-anaku,karena itulah saya lakoni terus berdagang buat kebutuhan saya sendiri.Saya belikan rumah kecil yang istilah sekarang disebut RSSSS(Rumah sangat Sederhana Susah Selonjor).Mungkin teman-teman tidak sependapat dengan keputusan saya,tetapi saya menikmatinya dan berbahagia dengan keberadaan saya saat ini.Firman Tuhanlah setiap saat yang menguatkan saya.Demikianlah kesaksian seorang ibu yang aktif dalam kegiatan Ina Hanna di gereja kami.Kehidupan yang sangat sederhana,tetapi dekat dengan Tuhan PenciptaNYA. Wals
Trackback(0)
 |