|
James Dobson dalam buku Mendidik Putra Anda menuliskan “Dari semua gelar yang telah diberikan kepada saya, termasuk psikolog, penulis, profesor dan presiden asosiasi konseling, gelar yang paling saya sukai hanyalah ‘ayah’ “.Pernyataan ini sangat menyentuh dan membangun visi keayahan baru dalam diri saya. Sebelum memahami pernyataan Dobson, saya merasa lebih mengutamakan karir daripada anak-anak saya. Kalimat itu memberi arah baru dalam diri saya menjadi seorang Ayah bagi dua putra kami.
Pengalaman dengan Ayah Saya bersyukur walau Ayah kami tidak sempurna, dia mewariskan beberapa hal baik kepada kami. Saya ingat, ayah kami paling senang diinjak-injak.
Itu tugas saya dan kakak-kakak saya pada saat ayah sedang tidak enak badan. Ayah menelungkup di kasur dan kami bergantian menginjak punggung. Di samping itu ayah kami juga paling suka kalau dicabuti uban. Dari setiap uban yang tercabut sampai ke akar, kami diberikan lima rupiah. Sebaliknya kalau cabutnya salah dikurangi lima rupiah. Satu lagi pengalaman yang menarik dengan ayahku saat saya kecil adalah, ia suka mengajak kami jalan pagi setiap pukul 5 pagi. Dalam perjalanan pulang ayah selalu membeli kue pasar kegemaran kami untuk sarapan.Semua pengalaman bermain dan berbicara dengan ayah menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya sekarang ini setelah menjadi ayah. Sebab waktu bersama dengan ayah ternyata sangat berguna bagi perkembangan jiwaku. Inilah yang saya sebut aktifitas yang membangun anak-anak.Sayangnya, ayah saya juga punya masalah dengan dirinya. Dia suka minum dan berjudi. Itulah yang menjauhkan kami, anak-anaknya, dengan ayah kami beberapa tahun kemudian. Kebiasaan itu juga yang akhirnya menghancurkan keluarga kami. Memperbaiki Generasi Di Bawah Bercermin dari kegagalan ayah saya memimpin keluarganya, saya berusaha memelihara visi “menjadi ayah”. Kita tidak bisa mengubah generasi di atas kita, tetapi bisa mempengaruhi generasi di bawah kita. Memelihara visi ini tidak gampang. Banyak sekali kendalanya, misalnya pekerjaan, hobi, teman-teman, juga diri sendiri. Karena itu, kita harus menjadikan keluarga dan anak sebagai pusat aktifitas kita. Apapun yang merusak keluarga kita, termasuk tawaran posisi dan gaji yang tinggi kita harus berani berkata tidak. Terlalu mahal jika kita mengorbankan anak-anak kita demi karir atau apapun.Tiap ayah punya visi sendiri bagi keluarganya dan bagi anak-anaknya. Saya punya dua anak laki-laki. Visi saya adalah membangun keturunan yang tangguh. itu bukan hal mudah. Visi ini menjadi sangat penting jika kita mengerti bahwa kita tidak hanya bertanggung jawab atas anak-anak kita, tetapi juga atas cucu-cicit kita. Jika Ayah Hadir Ketika ayah hadir dan berfungsi di rumah, seisi rumah merasa nyaman. Ada Papa! Ada yang dimintai pertolongan di saat perlu. Anak-anak tahu ada yang membela dan ada tempat bertanya. Anak-anak merasa dia dihargai dan diperhatikan, karena ayahnya mau bermain bersama dia. Ciri Ayah yang berfungsi dan dirasakan kehadiran oleh anaknya adalah anak-anak merindukan Ayah mereka. Mari kita periksa mulai hari ini apakah menjadi Ayah yang hadir dan berfungsi sebagai Ayah bagi anak-anak kita, atau belum. Julianto Simanjuntak Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2011/03/02/visi-seorang-ayah/
Trackback(0)
 |