| Komitmen untuk mengasihi kebenaran (1) |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin | |
| Jumat, 19 November 2010 22:50 | |
|
Markus 11:27-33 (Parallel dengan Matius 21:23-27) Markus 11:27-33 Hari ini, kita melanjutkan penyembahan kita sambil kita mempelajari Firman Allah. Mempelajari Firman Allah itu bukanlah sekadar untuk meningkatkan pengetahuan. Pengetahuan hanya akan menumbuhkan kesombongan, suatu hal yang sangat tidak kita inginkan. Sebaliknya, kita ingin mempelajari Firman Tuhan dengan pemahaman yang akan membawa kita pada kerendahan hati. Kita akan melihat pada Markus 11:27-33. Lalu Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?" Jawab Yesus kepada mereka: "Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!" Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Maka kata Yesus kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu." Pikiran duniawi mengenai otoritas Ada satu pelajaran rohani yang penting di sini. Yang ditanyakan di sini adalah: atas dasar kuasa mana? "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?" Apa yang dimaksud dengan 'hal-hal itu'? Tentunya adalah hal-hal yang baru saja dia perbuat. Dia menyucikan Bait Allah. Dia mengusir keluar para penukar uang. Dibalikkannya meja-meja mereka. Yesus menggunakan kuasa untuk menyucikan Bait Allah dari berbagai kegiatan komersil atau bisa dikatakan eksploitasi agama demi keuntungan keuangan. Yesus tidak bisa mentoleransi hal-hal yang semacam itu. Dia mengusir semua orang itu keluar dari Bait Allah. Hal ini tentu saja sangat menyinggung hati para imam kepala karena wilayah Bait Allah adalah daerah kewenangan mereka. Mereka adalah para penanggung jawab Bait Allah, secara lahiriah, atau setidaknya seperti itulah menurut anggapan mereka. Dan mereka memandang bahwa Yesus telah melanggar wilayah kekuasaan mereka. "Bait Allah itu urusanku," demikian kira-kira kata imam kepala. Pada imam kepala menganggap bahwa tempat ini adalah wilayah kekuasaan mereka, dan Yesus datang lalu melakukan semua tindakan tersebut. Jadi mereka berniat menantangnya. Dan saaat Yesus melangkah masuk ke Bait Allah, para imam kepala, para ahli Taurat (yakni para pakar Kitab Suci di zaman itu) dan para tua-tua (yakni para pemimpin agama umat Israel. 'Tua-tua' adalah sebutan bagi para pemimpin.) menanyai Dia, "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan semua itu? Siapa yang memberiMu kuasa itu?" Dengan kata lain, mereka berkata, "Siapakah Engkau ini sehingga berani melakukan semua hal tersebut?" Lalu Yesus berkata, "Aku akan mengajukan pertanyaan dan kalian harus memberikan jawabannya. Dan jika kalian telah memberikan jawaban tersebut, maka Aku juga akan memberikan jawab atas pertanyaan kalian, karena jawabanku bergantung dari jawaban kalian. Jadi, kalian jawab dulu pertanyaan ini, baptisan Yohanes Pembaptis, dengan kuasa manakah dia menjalankan pelayanannya di padang gurun itu? Dengan kuasa manusia atau dengan kuasa Allah?" Anda lihat, para pemimpin itu sedang mencari tahu berdasarkan otoritas duniawi mana Yesus bertindak. Dan menurut mereka jika Anda tidak punya otoritas dari pihak wewenang, maka Anda tidak memiliki kuasa sama sekali. Sedemikian duniawinya, sangat tidak rohani, cara berpikir mereka, "Dari oraganisasi keagamaan manakah Anda berasal? Dari organisasi mana Anda berasal atau organisasi mana yang memberikan Anda kuasa untuk melakukan semua ini? Aku tidak melihat bahwa Anda berpakaian sebagai seorang imam kepala. Aku bahkan tidak melihat bahwa Anda berpakaian sebagai seorang rabi! Aku tidak melihat adanya tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Anda memiliki hak untuk melakukan semua hal itu." Hal ini mengingatkan saya pada sebuah kejadian di Inggris, yakni di Liverpool, ketika saya akan mengunjungi pasien disebuah rumah sakit, dan mobil saya sudah mencapai pintu gerbang rumah sakit itu. Di sana ada sebuah palang yang menutupi jalan dan jika tidak diangkat oleh penjaga di sana, maka Anda tidak bisa masuk. Para penjaga itu memeriksa identitas semua pengunjung. Saya lalu memajukan mobil saya dan berkata, "Saya akan mengunjungi seorang pasien di sini yang merupakan anggota dari gereja kami." Petugas itu bertanya, "Apakah Anda seorang pendeta?" Saya jawab, "Ya." Dan dia berkata, "Anda tidak mengenakan kerah yang menjadi ciri khas seorang pendeta." Jangan memandang pada permukaan saja Bagi petugas itu, tanda kuasa atau jabatan terlihat dari apa yang Anda kenakan. Hal yang tampak di permukaan saja. Jika Anda mengenakan kerah yang merupakan ciri khas seorang pendeta, maka dia percaya. Mungkin saja Anda adalah seorang perampok bank, seorang penjahat, atau orang lainnya, akan tetapi selama Anda mengenakan kerah model tersebut, maka hal itu sudah cukup untuk dia percayai. Sangatlah mudah mendapatkan kerah semacam itu. Anda bisa masuk ke sembarang toko religius, mengambil sebuah kerah dari rak, dan memakainya. Dan bagi petugas jaga itu, Anda sudah layak untuk dipercaya sebagai seorang pendeta. Demikianlah, tidak heran jika seorang perampok bank memasuki bank incarannya dengan memakai kerah ini, dan tidak seorangpun yang akan mencurigai dia. Petugas keamanan di bank tidak mengamatinya, lalu dia masuk dan membuka tasnya, yang berisi senjata api. Hal ini cukup sering terjadi karena memang inilah cara terbaik untuk menipu manusia. Manusia hanya melihat apa yang ada di permukaan. Jadi, jika Anda mengenakan pakaian hitam dan kerah putih, maka saya bisa melebihinya, saya bisa saja mengenakan pakaian ungu, karena di Inggris warna ini menunjukkan jabatan sebagai seorang kardinal. Warna hitam menunjukkan pendeta, sedangkan warna ungu itu menunjukkan seorang kardinal. Jadi, dalam kesempatan belanja ke toko perlengkapan religius, mungkin saya akan mencari pakaian yang berwarna ungu, dan saya kira, petugas jaga itu bukan sekadar akan membukakan gerbang tetapi dia juga akan berdiri tegak memberi hormat! Oh, begitu mudahnya kita ditipu karena kita hanya melihat hal yang di luar saja. Organisasi gereja manakah yang Anda wakili? Kita ingin melihat bukti eksternal. Dan jika memang itu yang kita inginkan, maka dengan mudah kita akan ditipu. Sedemikian besar hasrat kita akan bukti eksternal ini sehingga Persekutuan Gereja-gereja Baptis yang menjadi induk organisasi gereja kita, membekali para pendetanya dengan semacam sertifikat, supaya - jika diperlukan - jika saya harus membuktikan bahwa saya adalah seorang pendeta, maka saya hanya perlu menunjukkan kartu yang menyatakan bahwa saya adalah pendeta dari asosiasi gereja tertentu itu. Konyol sekali! Semuanya berjalan agak komersial. Saya rasa pasti ada orang yang berkeliling sambil memanfaatkan kartu semacam ini untuk mengibuli banyak orang, maka saya bisa menipu banyk orang dengan leluasa. Orang-orang selalu ingin memeriksa tanda kuasa yang eksternal dari Anda. Di kartu itu tidak disertakan foto diri Anda, jadi siapapun yang memanfaatkan kartu ini akan bisa berlagak sebagai pendeta. Demikianlah, dengan menerbitkan kartu semacam itu, saya rasa hanya akan membuka jalan bagi penipuan yang lebih parah. Saat saya mendarat di bandara Kennedy dalam perjalanan pulang dari Inggris sekitar satu setengah tahun yang lalu, seorang petugas imigrasi menanyai pekerjaan saya dan saya jawab, "Pendeta." Dia bertanya, "Adakah kartu identitas yang bisa membuktikannya?" Saya jawab, "Ya," namun kemudian saya tidak bisa menemukan kartu saya. Saya cari di mana-mana, tetapi tidak saya temukan juga. Lalu dia menatap saya dengan curiga karena saya tidak bisa menunjukkan kartu identitas tersebut. Kemudian dia menggeledah tas saya, sebenarnya dia akan melewatkan saya begitu saja jika saya bisa menunjukkan kartu tersebut. Karena saya tidak bisa, lalu dia memutuskan untuk menggeledah barang bawaan saya. Saya berkata, "Silakan. Geledah saja." Manusia menghendaki tanda lahiriah - sepotong kertas, atau kerah baju Anda. Inilah bukti bagi sumber kewenangan Anda. Sukar dipercaya! Saya rasa di dunia ini, manusia terpaksa harus memakai cara itu terus menerus. Saya rasa mereka tidak memiliki jalan lain. Mereka belum memiliki kemampuan untuk membedakan secara rohani untuk memastikan apakah Anda benar-benar seorang hamba Allah atau bukan. Akan tetapi sangatlah penting bagi kita untuk bisa memastikan apakah seseorang itu benar-benar seorang hamba Allah yang sejati atau bukan. Bagaimana kita bisa membedakan hal ini? Bagaimana membedakan kebenaran? Yesus menanyai mereka, "Bagaimana kamu bisa tahu bahwa Yohanes Pembaptis itu adalah seorang hamba Allah? Bisakah kamu menjelaskannya?" Dia tidak memiliki kewenangan duniawi. Yohanes Pembaptis tidak termasuk golongan Farisi, bukan orang Saduki, dan dia juga bukan imam kepala. Tanda kewenangan apa yang dia miliki? Apakah tandanya? Apakah karena dia memakai jubah kulit binatang? Dia memakai ikat pinggang yang besar di pinggangnya, apakah hal itu menunjukkan bahwa dia adalah seorang nabi Allah? Kalau begitu, maka kita hanya perlu mengenakan pakaian dari kulit domba, dan lihatlah, kita semua mendadak berubah menjadi para nabi! Dan memang ada sebagian orang yang akan terusik jika Anda tidak mengenakan tanda kewenangan Anda, seperti petugas jaga di rumah sakit itu. Dia berharap bahwa saya tentunya mengenakan kerah khusus para pendeta. Saya tidak pernah mengenakan kerah tersebut. Saya tidak suka dengan kerah itu. Saya tidak mengerti mengapa kita harus memakai tanda-tanda lahiriah semacam itu. Yang lebih keterlaluan lagi, banyak pendeta yang tidak mau berkhotbah jika tidak mengenakan semacam jubah hitam berikut kerah putihnya di atas mimbar. Tiba-tiba saja, pakaian tersebut memberinya semacam kuasa! Dan jika saya berkhotbah tanpa memakai jubah semcam itu, maka khotbah saya dianggap kurang memiliki kewenangan. Namun jika Anda mengenakan jubah hitam itu, tak peduli apapun yang akan Anda sampaikan di atas mimbar, mendadak saja Anda berada beberapa tingkat di atas. Kita cenderung mudah untuk mematok nilai-nilai berdasarkan unsur-unsur lahiriah. Mengapa? Karena sama halnya dengan orang-orang Farisi itu, kita buta, atau nyaris buta - begitu terbatasnya pandangan kita sehingga kita tidak mampu melihat. Kita tidak bisa melihat. Itulah sebabnya seringkali Yesus berkata kepada orang-orang Farisi, "Kalian orang-orang Farisi yang buta. Kalian tidak bisa melihat lebih dari yang di permukaan. Kalian hanya melihat apa yang ada di luar saja. Kalian tidak bisa masuk dan membedakan apa yang ada di dalam." Ini adalah pertanyaan yang perlu kita cermati. Bagaimana kita bisa mengenali kebenaran? Bagaimana kita bisa memahami bahwa Yesus itu benar? Bagaimana kida bisa mengetahui bahwa Yohanes Pembaptis itu benar? Bagaimana kita bisa tahu bahwa seorang hamba Allah itu adalah memang hamba Allah yang sejati? Jika Anda tidak tahu, maka Anda akan ditipu karena banyak nabi palsu akan berkeliaran nanti, dan karena dia membawa Alkitab berukuran besar dengan hiasan keemasan di pinggirannya, dan karena lidahnya sangat fasih - dia memiliki "lidah yang terampil", dan oleh karenanya, Anda segera berpikir, "Ah! Ini memang manusia Allah yang sejati!" Dia memiliki penampilan yang menarik - memakai kaca mata dengan bingkai emas dan ini langsung saja menaikkan harga dirinya. (bersambung: Komitmen untuk mengasihi kebenaran (2))
Sumber: Cahaya Pengharapan Ministry www.cahayapengharapan.org
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 1045 Trackback(0)
Comments (0)
![]() Write comment
|



















