Minggu, 20 Mei 2012
 
 

Buku Tamu

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini763
mod_vvisit_counterKemarin894
mod_vvisit_counterMinggu ini763
mod_vvisit_counterMinggu lalu6378
mod_vvisit_counterBulan ini17693
mod_vvisit_counterBulan Lalu22262
mod_vvisit_counterTotal441353

Online (20 minutes ago): 31
Your IP: 38.107.179.231
,
Now is: 2012-05-20 19:02

Waktu Anda

Ulti Clocks content

Ayo Gabung!!

G. Sinabung 2010

Statistics

Anggota : 2807
Konten : 271
Web Link : 6
Jumlah Kunjungan Konten : 1548458

Pengguna terkini

Vorenrina - 14.01.12 jam19:53 
Duelatettef - 18.12.11 jam02:50 
asi - 22.10.11 jam11:36 
loackdreall - 12.10.11 jam20:14 
thashibRato - 08.10.11 jam14:34 
toekangmodem03 - 27.09.11 jam03:44 
oxypokedlep - 10.06.11 jam04:28 
vutsOvats - 08.06.11 jam21:20 
Bendexhaund - 08.06.11 jam13:32 
Boantaniolern - 26.02.11 jam20:15 

Ho Do Tuhan

Yahoo Ping Box

Pulo Samosir


Ads on: Special HTML

Boru Panggoaran


Ads on: Special HTML

Borhat Ma Dainang


Ads on: Special HTML

O Tano Batak


Ads on: Special HTML

Anakku Na Burju


Ads on: Special HTML

Binjai Maps

Marhaban Polling

FUNGSI INTELEKTUAL GEREJA KRISTEN PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Admin   
Kamis, 09 Juli 2009 23:51

(Sebuah Otokritik Terhadap Peran Kontekstual Gereja-gereja Kristen di Indonesia)

Oleh: Ronald Julius Tanesia*

 

            Gereja merupakan sebuah komunitas dimana orang-orang beriman (baca: orang Kristen) saling berkumpul bersama untuk memuji dan menyembah Tuhan. Ini adalah pengertian dari hakekat gereja yang sudah umum dikenal oleh masyarakat Kristen. Hakekat gereja bukanlah pada bangunan fisik, melainkan lebih kepada keberadaan orang-orang seiman yang kemudian memanifestasikan misi dari iman Kristen, yaitu sebagai garam dan terang dunia. Merujuk kepada hakekatnya tersebut, maka jelaslah bahwa yang menjadi orientasi utama dari pertumbuhan gereja adalah bagaimana membentuk manusia Kristen yang bisa menjadi berkat bagi dunia dan lingkungannya.

            Sebagai seorang kader muda Kristen yang juga terlibat dalam pelayanan di gereja, saya melihat suatu ironi. Sebuah ironi yang dalam kacamata saya merupakan pengingkaran terhadap hakekat keberadaan gereja sebagai garam dan terang dunia. Gereja-gereja Kristen dewasa ini lebih banyak memfokuskan orientasi pertumbuhan jemaatnya bukan lagi kepada pembentukan manusia Kristen yang bisa menjadi berkat bagi dunia, melainkan kepada pembentukan manusia Kristen yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri di hadapan Tuhan. Dengan kalimat yang lebih singkat, gereja lebih banyak mengajarkan kepada jemaatnya bagaimana caranya untuk memperoleh keselamatan pribadi. Dengan semangat pengutusan untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus, gereja-gereja berlomba-lomba untuk mendapatkan jemaat sebanyak-banyaknya. Seringkali gereja-gereja juga terjebak dalam praktek-praktek kristenisasi praktis dan yang lebih parah gereja terjebak dalam perebutan jemaat, yang sebenarnya juga belum tentu merupakan penafsiran yang tepat dari pengutusan yang dipesankan oleh Yesus sendiri ketika Ia diangkat bangkit ke surga.

Satu hal yang seringkali terlupakan adalah bahwa sebelum Yesus memberikan pesan pengutusanNya, Yesus telah terlebih dahulu menegaskan hakekat dari umat Kristen, yaitu sebagai garam dan terang dunia. Artinya, sebelum umat Kristen menjadikan semua bangsa murid Yesus, umat Kristen seharusnya terlebih dahulu menjadi panutan (role model) dari suatu bentuk kehidupan bermasyarakat. Panutan disini berarti bahwa umat Kristen seharusnya menjadi pemimpin atau setidaknya inisiator masyarakat untuk berkehidupan yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan. Bahwa untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus bukanlah dengan praktek kristenisasi praktis, tetapi melalui sebuah pengaruh positif dari keberadaan umat Kristen itu sendiri di tengah-tengah masyarakat. Seringkali terminologi gereja dewasa ini disalahartikan sebagai bentuk organisasi rohani kemasyarakatan, padahal jelas dari segi etimologis dan historis bahwa yang dimaksud dengan gereja adalah keberadaan dari orang-orang beriman seperti yang dijelaskan di awal tulisan ini.

Berbicara tentang peran gereja, bukanlah berbicara tentang peran organisatoris gereja, melainkan lebih kepada peran jemaat gereja yang ada di dalamnya. Adalah suatu kenaifan jika gereja hanya berbicara dan mewartakan injil tentang keselamatan dan janji abadi Tuhan Allah saja, yang kemudian diperindah dengan pujian-pujian merdu nan menghanyutkan yang seringkali menjadi suatu bentuk pelarian spiritualitas jemaat dari realita kehidupannya. Tidaklah salah jika seorang Karl Marx kemudian menyebut bahwa agama adalah suatu candu, karena memang dari dulu dan sampai sekarang gereja sebagai salah satu bentuk aktualisasi kehidupan beragama hanya berbicara tentang idealisme-idealisme indah yang seringkali tidak diikuti dengan suatu langkah nyata yang kongkrit. Gembala jemaat seringkali memperlenakan (kalau tidak mau dibilang membodohi) jemaat dengan janji-janji indah, yang sebenarnya tidaklah salah karena janji-janji tersebut adalah janji Tuhan Allah sendiri, tetapi yang menjadi masalah adalah ketika janji-janji tersebut dimaknai hanya sebagai sebuah bentuk mujizat yang bisa terjadi dengan sendirinya. Janji-janji tersebut kalau mau dilihat secara cermat sebenarnya merupakan sebuah bagian dari rencana Tuhan, sama seperti hakekat keberadaan manusia yang notabene juga merupakan bagian dari rencana Tuhan. Artinya janji-janji tersebut perlu diperlengkapi untuk kemudian bisa terealisasikan, bagaimana cara memperlengkapinya??? Dengan melibatkan peran serta umat Kristen sebagai bagian dari rencana Tuhan.

Seringkali yang menjadi kecelakaan umat Kristen adalah bahwa umat Kristen melihat janji-janji tersebut sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk menyenangkan umat manusia, artinya bibit keegoisan spiritualitas mulai muncul dari sini. Bahwa janji-janji tersebut diharapkan bisa datang dengan sendirinya dari atas langit dan kemudian melingkupi umat Kristen sebagai umat pilihan Tuhan. Umat Kristen lupa bahwa sebenarnya keberadaan umat Kristen sebagai umat Kristen adalah untuk mewujudnyatakan janji-janji tersebut. Tanpa bermaksud untuk merasionalkan agama, tetapi jika berbicara tentang konsep keselamatan maka adalah suatu keegoisan yang sangat luar biasa sekali jika keselamatan tersebut hanya dimaknai sebagai suatu tujuan yang absolut. Bahwa setiap umat Kristen harus terlebih dahulu mengejar keselamatan, itu benar, tetapi setelah keselamatan datang selanjutnya apa???

Jika bercermin pada kisah Paulus, maka itu sebenarnya merupakan suatu bentuk contoh kongkrit dari tindak lanjut keselamatan yang diberikan oleh Tuhan kepada seorang manusia. Paulus tidak pernah sekalipun melakukan tindakan-tindakan kristenisasi praktis, yang dia lakukan hanya memberitakan injil dan dalam memberitakan injil itupun dia melakukannya bukan dengan cara-cara yang megah dan populis namun dengan cara-cara yang intelek dan mendidik. Paulus memberitakan injil bukan hanya melalui khotbah-khotbah indah semata tetapi juga melalui aktualisasi diri yang dia tunjukkan melalui perilaku dan sikap hidupnya (bandingkan I Kor 1:17). Dan kalau kita mau melihat dengan lebih cermat lagi, sebenarnya Yesus bukan saja seorang nabi, melainkan juga seorang tokoh masyarakat, guru, dan intelek muda yang sangat-sangat cerdas dan peka terhadap keadaan sekelilingnya. Dimensi ajaran Yesus bukan hanya menyentuh persoalan-persoalan rohani semata namun juga menyentuh persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan dan bahkan persoalan politik. Jika kita melihat gaya hidup seorang Yesus, maka jelas terlihat bahwa Dia tidak pernah memposisikan diriNya sebagai seorang tokoh rohani yang populis, namun sebaliknya Dia memposisikan diriNya sebagai seorang pendobrak kehidupan kebudayaan yang menyesatkan. Bahwa kemudian ajaranNya menjadi ancaman bagi sebagian orang yang berkuasa itu adalah suatu kenyataan yang harus Dia hadapi sebagai bagian dari hakekat keberadaanNya di dunia. Bahwa dengan memberitakan dan memaparkan kebenaran Dia harus berhadapan dengan maut itu adalah konsekuensi dari sebuah perjuangan untuk mencerdaskan umat manusia, yang pada waktu itu dibodohi habis-habisan oleh sekelompok penguasa picik yang berorientasi pada kekuasaan.   

Hal yang juga sering dilupakan oleh gereja bahwa salib terdiri atas bagian vertikal dan horisontal. Makna filosofisnya, bahwa kehidupan iman seorang Kristen bukan hanya sebatas hubungan pribadinya dengan Tuhan saja tetapi juga melingkupi hubungan pribadinya dengan sesamanya. Jika seorang Kristen mengasihi Tuhan, maka secara otomatis seharusnya dia juga mengasihi sesamanya (bandingkan Mat 22: 37-39). Mengasihi sesama disini juga bukanlah sebuah pemaknaan yang naif, bahwa mengasihi sesama bukan hanya dengan memberi sedekah atau dengan memberi makanan kepada sesama yang membutuhkan. Mengasihi sesama adalah ketika umat Kristen menyadarkan kebodohan yang diidap oleh sesamanya (baca: mencerdaskan sesamanya), mengasihi sesama adalah ketika umat Kristen berani menyatakan kebenaran sosial yang hendak ditutup-tutupi, mengasihi sesama adalah ketika umat Kristen berani menentang demoralisasi masyarakat dan berani tampil beda sembari menyatakan kemuliaan Tuhan. 

Melihat teladan Yesus dan Paulus, maka jelaslah bahwa sesuai dengan doktrin gereja yang saya dapatkan tentang tiga tugas utama gereja, yaitu koinonia, diakonia, dan marturia (penginjilan, pelayanan, dan pengorbanan), maka sudah sepantasnya jika gereja bertugas untuk memberitakan, melayani, dan berkorban demi yang namanya kebenaran. Kebenaran yang tentu saja kebenaran hakiki yang berdasar pada iman Kristen. Kebenaran yang hanya berpihak kepada Tuhan saja dan bukan kepada apa kata orang banyak (baca: sesuai dengan selera pasar). Bukannya memberitakan, melayani, dan berkorban demi institusi gereja dan denominasi masing-masing yang berujung pada praktek-praktek perebutan jemaat dan megalomania institusi.       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Penulis adalah Pengurus KPPM GKJW Jemaat Ngagel Surabaya.

Seorang muda Kristen yang gelisah dengan keadaan jemaatnya.

Trackback(0)
Comments (0)Add Comment

Write comment

security code
Write the displayed characters


busy
Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 16 Juli 2009 22:03 )