|
Kampungku sangat jauh dari keramaian dan belum dikenal banyak orang didalam peta . Lampu penerangan juga belum masuk sehingga kami hanya memakai lampu teplok pada malam hari.Setiap bangun pagi lobang hidung menjadi hitam akibat kena asap lampu malam hari .Dalam kondisi demikanlah saya belajar hingga tamat dari SMU .Kemudian saya melanjutkan study ke salah satu perguruan tinggi di Pulau Jawa dan berhasil menyandang Sarjana Hukum.Aku tidak mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan. Sebulan setelah wisuda sarjana,saya diterima di instansi pemerintah.Dalam tempo tiga tahun karier saya terus menanjak,hingga mencapai top management dalam umur 27 tahun.Melihat kondisi ekonomiku yg sudah mapan,saya menikah dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai guru.
Mengapa saya ingin menikah dengan seorang guru? Saya berasumsi bahwa dia bakal mampu mendidik anak-anak kami.Saya pikir,itu adalah hal yang logis.Kehidupan keluarga kami sangat bahagia.Disamping materi yang cukup,kami juga dikarunia anak-anak yang manis dan cantik.Mereka semua aktif dalam pelayanan di gereja. Setiap hari Minggu,kami tidak pernah absen untuk ibadah.Saya mengharapkan menantu saya kelak harus satu iman dengan kami.Anak-anak beranjak remaja,dan mereka sudah mulai bergaul sebagaimana pergaulan muda/mudi. Suatu ketika saya melihat anakku nomor dua pacaran dengan laki-laki dari lain suku dan lain kepercayaan. Saya katakan kepadanya,agar jangan bergaul lagi dengan laki-laki itu Saya juga melarang pacar anakku mengunjunginya. Saya malah mengeluarkan kata-kata makian kepada laki-laki itu.Bagaimana nggak emosi? Soalnya laki-laki itu hanya tukang parkir di salahsatu mall di ibukota..Pendidikan nya juga nggak sebanding dengan pendidikan anakku.Dia hanya tamat SMP.Rupanya makian dan larangan saya tidak digubris,mereka berhubungan terus secara back street.Laki- laki itu memang ganteng dan tinggi besar.Inilah yang membuat anakku sulit melepaskannya. Karena anakku aktifis gereja,dia berusaha keras agar laki-laki ini mau masuk Kristen. Beberapa kali saya lihat laki-laki ini ikut ibadah minggu bersama putri saya. Dia mau mempelajari Alkitab.Setelah putriku merasa yakin dia mau masuk Kristen dan merasa yakin pria ini mencintainya, maka pada suatu kesempatan laki-laki ini meminta bukti keseriusan anak saya mencintainya. Akhirnya tanpa pikir panjang,putriku menyerahkan kehormatannya. Setelah melakukan perbuatan maksiat itu,anak saya menuntut agar bertanggungjawab atas perbuatanya. Pria tersebut menolak menikahinya kalau putriku tidak ikut agamanya yaitu harus masuk agama Islam dulu.Untung tak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Dia mau ke gereja selama ini hanya tipuan laki-laki itu untuk memiliki putriku Akhirnya putriku meninggalkan Yesus agar suaminya tidak lepas dari pelukannya. Mukaku seperti tercoreng atas perbuatannya dan kami sekeluarga nggak pernah ke gereja lagi mendengar Firman Tuhan.Aku merasa gagal mendidik anakku sekalipun karier saya di pemerintahan sukses.Dimana letak kegagalanku? Setelah aku renungkan peristiwa ini,saya menemukan jawabannya.”kami kurang dekat dengan Tuhan”sekalipun rajin ke gereja.,kami hanya mencari popularitas semata,bukan mencari Tuhan(WS) Wals
Trackback(0)
 |