| Sabun Purba |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin | |
| Jumat, 23 April 2010 16:36 | |
|
Walaupun aku membasuh diriku dengan salju dan mencuci tanganku dengan sabun, (Ayub 9:30) Kitab Yeremia dan Maleakhi yang juga berasal dari masa sebelum Masehi juga menegaskan bahwa sabun sudah dipakai orang. Bahkan, sekalipun engkau mencuci dirimu dengan air abu, dan dengan banyak sabun, namun noda kesalahanmu tetap ada di depan mata-Ku, demikianlah firman Tuhan ALLAH. (Yeremia 2:22) Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. (Maleakhi 3:2) Dari sudut pandang sejarah, sabun telah dikenal sejak tahun 2800 SM oleh masyarakat Babilonia kuno. Sebagaimana kita ketahui, nabi Ibrahim berasal dari kota Ur yang termasuk wilayah Babilonia. Tidaklah aneh bila sabun kemudian dikenal oleh keturunan nabi Ibrahim. Tablet tanah liat Babilonia yang berasal dari tahun 2200 SM merekam bahwa sabun purba dibuat dari air, basa, dan minyak Kasia (Cassia oil ). (Catatan: Cassia kayu manis (Cinnamomum aromaticum) merupakan kerabat dekat dengan kayu manis (C. verum, C. zeylanicum), Saigon kayu manis (loureiroi C., juga dikenal sebagai "kayu manis Vietnam"), laurel (C. camphora), malabathrum (C. kamper Tamala), dan kayu manis Indonesia (C. burmannii). Seperti halnya spesies-spesies, kulit kering kasia digunakan sebagai bumbu sebuah. Cassia rasa kayu manis yang kurang halus dibandingkan dengan kayu manis benar; karena alasan ini, kasia lebih murah kadang-kadang disebut "bajingan kayu manis". [2] Papirus Eber yang berasal dari Mesir tahun 1550 SM mengindikasikan bahwa orang-orang Mesir kuno telah mandi secara teratur menggunakan sabun yang terbuat dari kombinasi minyak binatang, minyak tumbuhan, dan garam basa. Pada masa tersebut, di Mesir, bani Israil sedang berada dalam perbudakan. Dari catatan peradaban kuno tersebut, kita dapat mengetahui bahwa sabun yang disebutkan dalam Alkitab terbuat dari kombinasi air, basa, minyak tumbuhan, dan minyak binatang. Kata Ibrani בר (bar) punya makna "bulir tumbuh-tumbuhan jenis padi-padian ", "lemak", "sabun", dan"bersih". Sepintas lalu, berbagai makna kata tersebut sama sekali tidak ada hubungannya. Tapi dengan mengetahui sabun purba, maka kita mengetahui bahwa makna-makna tersebut ada hubungannya satu sama lain. Bulir tumbuhan padi-padian adalah pakan ternak yang menghasilkan lemak, lemak (minyak binatang) digunakan untuk membuat sabun, sabun membuat bersih. Kita dapat melihat gejala bahasa perluasan makna yang berlangsung selama ratusan tahun pada kata בר (bar). Dari artefak arkeologis tersebut dapat diketahui bahwa sabun telah dikenal luas sebelum tahun 1500 SM dalam peradaban Babilonia (Timur Tengah) dan Mesir (Afrika). Dari kedua peradaban besar purba tersebut, sabun tersebar ke pusat kekuasaan Eropa purba, yaitu Romawi. Pembuatan sabun Rumawi Purba adalah sebagai berikut:
Kitab Yeremia menyebutkan penggunaan sabun dalam ritual keagamaan (wudlu, mandi sebelum ibadah) sebagai simbol pembersihan diri. Bahkan, sekalipun engkau mencuci dirimu dengan air abu, dan dengan banyak sabun, namun noda kesalahanmu tetap ada di depan mata-Ku, demikianlah firman Tuhan ALLAH. (Yeremia 2:22) Ayat tersebut menegur bani Israil purba yang salah paham dan mengira wudlu dengan sabun dapat membersihkan dosa. Dengan demikian, wudlu dengan sabun dalam ritus Ibrani purba adalah simbolisasi pembersihan diri sebelum shalat, khususnya shalat berjama'ah. Sumber: http://www.studycycle.net/2010/04/sabun-purba.html?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+blogspot%2Fstudycycle+%28Study+Cycle%29
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 1530 Trackback(0)
Comments (0)
![]() Write comment
|


















