|
Saya seorang ibu rumah tangga yang mengalami trauma yang nyaris membuatku gila.Anakku ada dua dan yang paling kecil baru berusia 11 tahun.Dia masih membutuhkan perhatian dari kami. Saya sudah lama menderita penyakit lambung dimana kalau penyakit itu kambuh saya selalu mengalami demam tinggi.Tidak terhitung lagi berapa banyak saya opname dan periksa ke dokter,tetapi penyakit saya itu pada saat2 tertentu selalu muncul. Setiap kali kambuh saya harus menginap di Rumahsakit paling tidak 5 hari.Dokter belum menemukan penyebab penyakitku.Teman-temanku menyarankan agar saya menggunakan pengobatan alternatif atau ke dukun.Tetapi saya dan suamiku tidak setuju bila kami menggunakan jasa dukun. Bertahun-tahun saya keluar-masuk rumah sakit.Tidak sedikit biaya yang kami keluarkan.
Saat yang menghawatirkan itupun tiba,ketika dokter memutuskan saya harus operasi besar.Para ahli menemukan benjolan di lambung saya.Aku putus asa,karena biasanya menurut informasi yang saya dengar,operasi sejenis kebanyakan gagal.Suamiku sudah setuju saya harus dioperasi. Tapi saya sendiri belum setuju.Dengan bujukan dari suamiku ahirnya saya setuju sekalipun masih ragu.Aku membayangkan wajah anakku yang masih membutuhkan perhatian.Dalam hati aku berdoa:”Tuhan sembuhkanlah penyakitku ini,agar saya boleh mengantarkan anakku menjadi manusia yang mandiri”. Aku masih diliputi kesedihan mendalam.Airmata menetes dari pelupuk mataku.Aku belum rela dipanggil secepat ini.Aku masih ingin merawat anakku.Setelah berdoa,perasaan tidak tenang makin berkecamuk,batinku tidak tenteram.Tak ada yang saya peroleh dari doa saya.Sepertinya Tuhan tidak mendengar doaku. Dokter ahli bertanya kepadaku:”Apakah ibu sudah berdoa?”,Saya sudah didoakan oleh sanak keluarga,jawabku kepada dokter. Berdoa sendiri juga boleh,saran dokter kepadaku. Akupun menundukkan kepala sambil berdoa dari hati yang paling dalam.Kalimat singkat hanya dua kalimat:”Hidup atau mati,aku serahkan diriku kepadamu Tuhan”.Amin Selesai mengucapkan kata amin,hatiku terasa ringan..plooong..tidak ada beban lagi. Hatiku penuh damai,tidak seperti hari2 sebelumnya selalu diliputi kekuatiran. Mengapa doaku sebelumnya tidak membawa kedamaian dihati? Koq sekarang saya tenang dan merasa tenteram? Ternyata doaku yang pertama adalah menonjolkan kehendakku saja,kehendak duniawi.Tetapi begitu saya menyerahkan total jiwaku kepada Tuhan,kedamaian hati itu saya dapat raih karena anugerah kasih Tuhan. Kemudian dokter menerangkan jalannya operasi.Lambung saya akan dikeluarkan dan di tempatkan kedalam sebuah baskom.Saya dibius total dan kesadaran saya hilang.Menurut keterangan suami saya,lambung saya dikeluarkan semua,lalu dibedah,dan benjolan yang ditemukan diambil dengan membuang sebagian lambung saya. Operasi yang diperkirakan memakan waktu empat jam,ternyata hanya dilakukan para ahli selama dua jam saja. Puji Tuhan,operasi berjalan lancar,dan saat ini saya sudah sehat kembali.Tuhan kita yang ajaib selalu memberi yang terbaik bagi orang yang berseru kepadaNya. (Wals)
Trackback(0)
 |