Minggu, 20 Apr 2014
 
 

Waktu Anda

Ulti Clocks content

Statistics

Anggota : 310
Konten : 337
Web Link : 6
Jumlah Kunjungan Konten : 2797674

Pengguna terkini

asi - 05.02.13 jam10:57 
toekangmodem03 - 19.07.12 jam04:47 
Fleettyjoussy - 01.11.10 jam20:35 
jesphtsmita - 05.10.10 jam00:21 
agendaSmidamb - 30.09.10 jam04:33 
extellora - 24.09.10 jam03:02 
Whislilathins - 23.09.10 jam06:35 
CiscoGlcSxMM - 22.09.10 jam00:04 
aperiaffory - 21.09.10 jam20:14 
SDAaMoNo - 20.09.10 jam02:01 
MANUSIA MENURUT ALKITAB DAN APLIKASINYA BAGI PRINSIP BELAJAR PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Admin   
Sabtu, 01 Agustus 2009 08:11

Oleh: B.S. Sidjabat

 

1 – Pengantar

          Banyak buku psikologi pendidikan dan psikologi belajar yang dapat menolong kita bagaimana memahami cara belajar manusia, serta aplikasinya bagi tugas pembelajaran.  Akan tetapi pada umumnya teori itu muncul dari asumsi bahwa manusia pada dasarnya baik, juga merupakan buah evolusi.  Dengan pendekatan behavioristik, teori belajar dirumuskan dari percobaan terhadap binatang (anjing, burung, dll). Dengan pendekatan kognitif, teori belajar dikembangkan dari pemahaman bahwa manusia memiliki pikiran (otak) yang mempengaruhi sikap dan perilakunya.  Dengan pendekatan humanistik, teori belajar dikembangkan dari pengertain bahwa manusia mempunyai kebutuhan seperti fisiologis, rasa aman, dikahi dan mengasihi, rasa memiliki dan aktualisasi diri (Maslow).

 

          Sebagai orang Kristen yang percaya kepada Alkitab, sabda Allah, kita seharusnya mempertimbangkan penjelasannya mengenai manusia.  Kalau menurut psikologi belajar pada umumnya manusia memiliki tubuh, pikiran, emosi dan jiwa (soul), menurut Alkitab manusia juga memiliki hati, suara hati (hatinurani) dan roh (spirit).  Jika demikian, maka ketika manusia belajar, semua aspek itu akan aktif dan saling terkait satu sama lainnya.

 

2 – Manusia dalam pandangan Alkitab.

          Untuk lebih jelasnya, marilah kita pertimbangkan sejumlah informasi Alkitab mengenai siapa dan apa manusia itu.

          Kejadian 1:26,27 menjelaskan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang membawa rupa dan gambar-Nya.  Kalau Allah berpribadi, maka manusia juga berpribadi. Allah memberikan berbagai potensi dalam diri manusia, seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir, merasakan, juga berbuat, agar mempermuliakan Dia.

 

          Kejadian 2:7 mengemukakan bahwa manusia yang diciptakan Allah itu terbentuk dari debu tanah dan padanya dihembuskan nafas kehidupan (Ibr. nefes hayyah). Jika demikian, manusia sebagai individu (pribadi) memiliki dimensi fisik (jasmani) yang terikat kepada alam. Disamping itu, manusia memiliki aspek non-fisik atau rohani (spiritual).  Adanya nefes hayyah  itu membuat manusia membutuhkan Allah di dalam seluruh kehidupannya.

 

          Markus 12:29,30 menegaskan perkataan Yesus agar kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi.  Itu berarti pada diri manusia terkandung aspek lahirian dan non lahiriah; aspek material dan non-material dalam satu kesatuan. Hati biasanya dianggap sebagai pusat kehidupan dalam diri manusia, tempat pertimbangan, perasaan, dan sikap, juga kehendak.  Jiwa, biasanya diartikan sebagai perasaan. Kekuatan terkait dengan fisik, jasmani, penginderaan, sistem syaraf dan endokrin. Akal budi merupakan komponen yang membuat manusia mengerti dan memahami.

 

          Lukas 2:40,52 menjelaskan bahwa Tuhan Yesus bertumbuh dalam fisiknya, dalam hikmatnya, dalam spiritual dan dalam aspek sosialnya. Kalau mau bertumbuh dalam keutuhan, maka kita harus mengakifkan semua dimensi itu.

 

          1 Tesalonika 5:23 mengemukakan uacapan berkat rasul Paulus. Di dalamnya terkandung konsep manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh.  Tubuh berkaitan dengan pancaindera. Jiwa sering diartikan terkait dengan pikiran (akal), emosi (perasaan), dan kehendak (will).  Roh (pneuma – Yun) terkait dengan dimensi yang membuat kita mampu meresponi komunikasi Allah yang adalah roh adanya (Yoh 4:24).

 

          Ibrani 4:12 mengindikasikan bahwa manusia memiliki roh dan jiwa; itu berarti aspek roh (pneuma) memiliki perbedaan dengan jiwa (psyche). Menurut pendapat saya, roh manusia berhubungan dengan Tuhan.  Jiwa terkait dengan diri sendiri dan lingkungan sosial kita.  Efek dari lingkungan kita responi melalui jiwa – akal, pikiran, kehendak.

 

          Ibrani 9:14 menunjukkan bahwa manusia juga memiliki suara hati yang perlu disucikan oleh darah Kristus dari segala kejahatan supaya dapat beribadah kepada Dia dengan benar.  Roma 2:14,15; 9:1 menegaskan bahwa suarahati (Yun. syneidesis) menjadi tanda bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan.

 

          Ada banyak nats Alkitab yang juga berbicara tentang suara hati ini seperti dalam  Roma 13:5; 1 Kor 8:7,10,12; 10:28,29; 2 Kor 4:2; 1 Petr 2:19; Kis 23:1; 24:16; 1 Tim 1:5,19; 3:9; 4:2; 2 Tim 1:3; Ti 1:15; Ibr 10:22; 13:18; 1 Petr 3:16,21. Kalau demikian apa artinya hal ini bagi aktivitas belajar?

 

          Ruth Beechick dalam tulisannya A Biblical Psychology of Learning (Accent Books, 1982) mengemukakan bahwa dalam Alkitab terdapat 800 lebih istilah hati, sedangkan pikiran hanya sekitar 80 kali. Itu berarti, menurut Beechick, hati sangat sentral dalam kegiatan belajar.  Hati anak didik atau pelajar harus dipersiapkan dimotivasi, supaya memiliki ketetapan (heart set), komitmen untuk belajar dan berdisiplin, sehingga hatinya sangat mengasihi Tuhan.  Pikiran diaktifkan melalui informasi. Dalam pemahaman Beechick, kasih dan penerimaan orangtua atau guru amat sentral dalam menyiapkan hati anak untuk giat mencari dan mempertimbangkan informasi yang didengar dan dibacanya.

 

3 – Aplikasi untuk prinsip belajar.

          Dari keterangan di atas dapat saya kemukakan beberapa prinsip belajar bertolak dari konsep manusia, menurut ajaran Akitab. Pertama, manusia mahluk berdimensi fisik (jasmani), yang menurut sains memiliki syaraf, kelenjar, kerangka, sistem pencernaan, sistem pernafasan, sistem sirkulasi, sistem pembuangan.  Kesehatan fisik mempengaruhi aktivitas belajar.  Penginderaan penting dalam kegiatan belajar; informasi diperoleh lewat pengideraan dan kita membentuk persepsi, bahkan mengingat apa yang kita anggap berkesan dan bermakna.

 

          Kedua, manusia mahluk sosial.  Ia membutuhkan sesamanya, baik sejenis maupun lawan jenisnya (Kej 2:18,24,25).  Orangtua dan anak saling melengkapi dalam kegiatan belajar di dalam perjalanan hidup mereka.  Manusia saling mengasah, demikian tegas Amsal (27:17); juga ada efek pergaulan terhadap kepribadian dan watak orang.

 

          Keluarga merupakan komunitas primer dalam pembelajaran manusia. Anak diajar oleh orangtuanya sebelum memasuki tetangga, sekolah dan gereja.  Berbagai keterampilan dasar dipelajari anak dalam keluarga – pola-pola komunikasi dan disiplin serta nilai hidup. Bahasa juga dipelajari dalam konteks ini.

 

          Dalam Perjanjian Baru, komunitas orang percaya (gereja) sangat ditekankan dalam rangka pembelajaran (Kis 2:42-47; Kol 3:15-16; Ibr 10:24,25). Iman bertumbuh dalam interaksi komunitas, yang beribadah kepada Tuhan, juga aktif berdoa dan saling melayani. Yesus mengatakan bahwa perkumpulan orang percaya wadah kehadiran-Nya (Mat 18:19,20). Dia datang untuk membangun jemaat-Nya di bumi (Mat 16:18).  Aneh bila ada tendensi orang percaya ingin belajar tetapi memisahkan diri dari komunitas.

 

          Ketiga, manusia mahluk alam. Itu berarti alam juga mempengaruhi manusia dalam kegiatan belajar.  Kitab Amsal menegaskan agar manusia belajar kepada alam, tumbuhan dan binatang – semut, cicak, pelanduk, belalang, dll.  Yesus juga memakai cerita alam untuk mengajarkan Kerajaan Allah – penabur benih; biji sesawi; nelayan dan pukat; pembuat adonan; juga tindakan mengubah air menjadi anggur atau memberi makan 5000 orang dengan lima roti dan dua ikan.  Yesus mengajar murid-murid di berbagai lokasi, di perahu, di tepi danau, di atas bukit, di rumah, di sinagog, dll.  Di malam hari, Yesus beristirahat, karena begitulah hukum alam yang harus ditaati dimana kita beristirahat.

 

          Keempat, manusia mahluk rasional. Pikiran atau akal budi harus digunakan bagi kemuliaanNya.  Belajar merupakan aktivitas nalar. Pola nalar harus dikembangkan supaya memahami dengan baik dan benar.  Pikiran harus mendapat pembaruan (Rom 12:2). Pikiran harus dilatih untuk hal positif (Fil 4:4).

 

          Kelima, manusia mahluk spiritual. Roh manusia aktif dalam belajar untuk pertumbuhan imannya.  Ketika roh manusia didiami oleh Roh Allah, dipenuhi, dipimpinNya, maka ia semakin memahami kebenaran dan hidup sesuai kebenaran Tuhan.  Roh itu memampukan roh manusia mengerti perkara-perkara iman.  Roh itu menumbuhkan akhlak moral (Gal 5:22-23).

 

          Keenam, manusia mahluk bersuara hati.  Jika demikian maka pembentukan suara hati sangat perlu kita perhatikan dalam belajar.  Kalau suara hati orang lemah maka semangat dan keputusannya juga lemah. Suara hati harus disucikan oleh darah Kritus. Suara hati harus tunduk pada otoritas Yesus. Suara hati harus diperkaya oleh firman Tuhan.

 

          Jadi, belajar menurut konsep Alkitab sangat kompleks, dan berlangsung dalam setiap detik kehidupan kita.  Satu hal penting lagi, bahwa tujuan belajar manusia ialah mengenal Allah Tritunggal yang kudus, hingga mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi, juga dengan suara hati yang bersih.  Seperti Allah berbicara dengan berbagai cara kepada manusia (Ibr 1:1-3), manusia juga belajar mengenal Dia, mengenal dirinya, serta mengenal sesama dan lingkungannya dengan berbagai pendekatan.  Peniruan, pembiasaan, aktivitas mendengar, melihat, mencercap, mencium, menyentuh, melakukan, juga merasakan, semua penting dalam kegiatan belajar. Kreativitas menjadi sangat penting dalam kehidupan ini.

Trackback(0)
Comments (1)Add Comment
0
GOOD
written by JOSUA RAMBE, September 15, 2011
TERIMAKASIH SAYA UCAPKAN KEPADA BAPAK B.S SIJABAT YANG TELAH MEMAPARKAN PENGERTIAN MANUSIA MENURUT KONSEPSI ALKITAB. DENGAN ADANYA PENJELASAN DI ATAS SAYA SANGAT TERBANTU UNTUK MELENGKAPI TUGAS SAYA DI KAMPUS YANG AKAN DIPRESENTASEKAN KE DEPAN. TERIMAKSAIH....
GOD BLESS US...

Write comment

security code
Write the displayed characters


busy