| Hermeneutika Leksionari (Bagian 2) |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Sabtu, 01 Agustus 2009 07:54 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Oleh: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
6. Leksionari Pada Hari Minggu Biasa Berbeda dari masa raya gerejawi yang merupakan masa pengisahan (“Narrative Time”), dalam masa Minggu Biasa (Ordinary Time), melalui pembacaan leksionari kita diajak untuk memberi respon terhadap karya keselamatan Allah yang telah dikisahkan. Pada masa biasa (ordinary time) yang dimulai setelah Minggu Pentakosta, RCL memberi kepada kita dua alternatif bacaan untuk Kitab Perjanjian Lama dan Mazmur. Alternatif pertama disebut dengan semi-sinambung (semi-continous), di mana bahan bacaan pertama (Perjanjian Lama) diambil dari sebuah kitab yang dibacakan secara berkesinambungan dari minggu ke minggu. Alternatif kedua disebut dengan komplementer (complementary), di mana bahan bacaan pertama (Perjanjian Lama) dipilih dari perikop yang berhubungan erat dengan bacaan Injil. Lihatlah contoh di bawah ini. Untuk pembacaan Alkitab Tahun A, hari-hari Minggu Biasa (setelah Pentakosta) pada proper 5-8 disusun dengan dua alternatif. Kita dapat memakai pembacaan semi sinambung ataupun komplementer.
Dari tabel di atas terlihat jelas, apabila kita memilih alternatif pembacaan semi-sinambung (semi continous), maka Bacaan pertama (Perjanjian Lama) akan diambil secara berurutan / berkesinambungan dari kitab Kejadian dari minggu ke minggu. Sedangkan jika kita memilih alternatif pembacaan komplementer (complementary), maka Bacaan pertama (Perjanjian Lama) diambil dari perikop yang berhubungan erat dengan Bacaan Injil, sehingga tidak berkesinambungan dari minggu ke minggu. Sementara itu Mazmur sebagai Antar Bacaan yang dipakai juga berbeda, karena dipilih yang paling tepat untuk merespon Bacaan Pertama. Sekarang mari kita melihat lebih rinci perbedaan antara penggunaan pembacaan semi-sinambung dan pembacaan komplementer. Untuk itu, sebagai contoh lihatlah daftar bacaan untuk Minggu sesudah Pentakosta (Proper 4) tahun B yang menurut buku “The Revised Common Lectionary”[1] disusun sebagai berikut:
a. Pembacaan semi-sinambung (semi-continous) Jika kita memakai alternatif pertama (pembacaan semi-sinambung) selama masa biasa, maka terjadi perubahan fokus dari pemberitaan kisah keselamatan (pada masa perayaan gerejawi) menjadi eksplorasi Alkitab, dimana umat diperhadapkan dengan bagian-bagian Alkitab yang dibacakan secara berkesinambungan dari minggu ke minggu. Akibatnya, kaitan atau pertalian (benang merah) dari teks Perjanjian Lama dan Injil tidaklah selalu erat (renggang)[2]. Bisa terjadi, pada minggu-minggu tertentu kedua teks tersebut tampak kurang terkait erat seperti halnya daftar bacaan pada masa raya gerejawi. Dalam hal ini pengkhotbah tidak perlu memaksakan diri untuk mencari-cari hubungan (benang merah) kedua teks tersebut. Pada masa ini bisa saja pengkhotbah mengeksplorasi atau menggali secara lebih mendalam salah satu bacaan (misalnya, khotbah dari minggu ke minggu memakai bacaan dari Surat-surat atau Perjanjian Lama sebagai dasar pemberitaan Firman). Sebagai contoh, mari kita lihat daftar bacaan pada Proper 4 tahun B di atas, pada daftar bacaan semi-sinambung. Bacaan PL diambil dari I Sam. 3:1-10 yang menceritakan kisah panggilan Allah kepada Samuel. Sedangkan bacaan Injil diambil dari Mar 2:23 -3:6 yang menceritakan bagaimana para murid Tuhan Yesus dituduh melanggar hukum hari Sabat, sebab mereka memetik bulir gandum ketika sedang berjalan di ladang. Kita melihat di sini bahwa topik yang diangkat pada bacaan Perjanjian Lama (panggilan Samuel) tidak berhubungan/tidak kena-mengena dengan bacaan Injil (masalah hari Sabat)!
b. Pembacaan komplementer (complementary) Jika kita memakai alternatif kedua (pembacaan komplementer) selama masa biasa, maka dapat dipastikan bahwa bacaan pertama (Perjanjian Lama) berhubungan erat dengan bacaan Injil, sama seperti pada masa raya gerejawi. Mengapa? Karena bahan Bacaan Pertama dipilih dari perikop yang terkait erat dengan bacaan Injil. Dengan memakai alternatif ini, setiap minggu kita dapat menemukan benang merah yang menyatukan keempat bacaan, sehingga dapat digali satu tema yang solid dan sesuai dengan pesan seluruh bacaan. Namun konsekuensinya, kitab Perjanjian Lama yang dibaca dari minggu ke minggu tidak berkesinambungan. Sebagai contoh, lihatlah kembali daftar bacaan pada Proper 4 tahun B di atas. Pada pembacaan komplementer, bacaan PL diambil dari kitab Ulangan 5:12-15 yang mengangkat masalah hari Sabat. Perikop ini merupakan bagian dari Sepuluh Firman yang menegaskan tentang perlunya menguduskan hari Sabat, agar umat dapat merenungkan karya penyelamatan Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. “Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dri sana oleh Tuhan, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya Tuhan, Allahmu memerintahkan engkau merayakan hari Sabat” (Ul. 5:15). Sementara itu, Bacaan Injil (Markus 2:23 -3:6) menceritakan bagaimana para murid Tuhan Yesus dituduh oleh orang-orang Farisi telah melanggar hukum hari Sabat, sebab mereka memetik bulir gandum ketika sedang berjalan di ladang pada hari Sabat. Disini terlihat jelas hubungan (benang merah) antara bacaan PL (Ul 5:12-15) dengan bacaan Injil (Mar 2:23–3:6).
7. Penyusunan Tema-Tema Leksionari Dengan demikian jelaslah bahwa dalam masa raya gerejawi, khotbah leksionari sebenarnya menekankan suatu tema tertentu tentang karya dan peristiwa Kristus. Tentunya tema-tema yang muncul dari penafsiran keempat bacaan dapat saja beragam. Contoh: tema Adven I pada satu sisi mempersaksikan Pengadilan Zaman Akhir, tetapi dapat juga mengungkapkan pengharapan umat percaya dalam menyongsong kedatangan Tuhan yang dahsyat. Itu sebabnya bacaan pertama Adven I tahun B, Yes. 64:1-9, mempersaksikan sekiranya Allah mengoyakkan langit sehingga gunung-gunung goyang di hadapanNya (Yes. 64:1), lalu diikuti oleh respon umat: “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor” (Yes. 64:6a). Kemudian disampaikan permohonan agar Tuhan tidak mengingat kesalahan dan dosa umatNya: “Ya Tuhan, janganlah murka amat sangat dan janganlah mengingat-ingat dosa untuk seterusnya … (Yes. 64:4). Gagasan karya keselamatan Allah tersebut digemakan pula dalam Mzm. 80 (Antar Bacaan), yang mana umat memohon pemulihan sehingga umat memperoleh keselamatan (Mzm. 80:8). Juga diungkapkan dalam kesaksian rasul Paulus di I Kor. 1:3-9 (Bacaan II) yang menyatakan bahwa umat percaya dipanggil untuk hidup tak bercacat dalam menantikan kedatangan Tuhan. Akhirnya tema tersebut dikuatkan oleh Mark. 13:24-32 agar umat percaya senantiasa hidup dalam kewaspadaan menjelang kedatangan hari Tuhan. Jadi dalam khotbah leksionaris tidak hanya terdapat satu tema teologis tertentu, karena setiap perikop pada dirinya sendiri memiliki konteks dan pemahaman teologis yang berbeda. Bahkan masing-masing penulis memiliki “tema teologis” yang hendak diusung sebagai berita firman Tuhan sesuai dengan konteksnya masing-masing. Jalinan teks keempat bacaan tersebut membentuk penyajian tematis tentang prinsip-prinsip pengajaran iman Kristen yang terkristalisasi dari suatu kisah (“Interwined with this is the thematic presentation of those basic Christian doctrines that have crystallized from the story”). [3] Secara implisit penyajian tema-tema teologis ini dapat memperkaya dan memperdalam pengajaran iman Kristen - sejauh kita dapat menarik tafsiran dari keempat teks bacaan dan menghubungkannya dengan masa kini. Itu sebabnya gereja-gereja Episkopal menyatakan bahwa leksionari pada hari Minggu Biasa (Ordinary Time) adalah pilihan pola pembacaan dalam tema yang sesuai dengan Injil selama hari-hari Minggu sesudah Pentakosta (“the option of lections in thematic harmony with the Gospel of the day for the Sundays after Pentecost”).[4]
8. Khotbah Leksionaris: “Decontextualizing” dan “Recontextualizing” Beberapa pihak beranggapan bahwa penafsiran dan khotbah leksionaris lebih merupakan “eisegese” subyektif yang sekedar “menggabung-gabungkan” ide teologis yang terdapat dalam keempat bacaan. Hasil tafsir setiap pengkhotbah dianggap hanya sekedar “menggabung-gabungkan” menurut selera pribadi. Perlu kita pahami bahwa suatu khotbah sebenarnya bukanlah sekedar suatu uraian tafsiran (eksegese) dari suatu atau beberapa teks Alkitab. Khotbah yang demikian tidak akan dapat mendarat atau membangun. Khotbah yang baik dan membangun jemaat bukanlah sekedar memperlihatkan keahlian tafsir (eksegese) yang sangat obyektif dan akurat; tetapi juga mampu membahasakan ulang dan mengkomunikasikan firman Tuhan tersebut secara eksistensial dalam kehidupan atau konteks jemaat. Jadi pemberitaan firman dalam khotbah tidak hanya diperlukan tafsiran (eksegese) yang obyektif dan mendalam, tetapi juga sentuhan dan sapaan personal kepada jemaat agar firman Tuhan yang tertulis dapat menjadi realitas firman Tuhan yang hidup bagi setiap umat. Ketika seorang pengkhotbah berhasil mempertemukan dan menarik kesimpulan hasil tafsirannya dari keempat bacaan leksionari, sebenarnya dia telah melakukan “decontextualizing” yaitu mencabut konteks dari keempat bacaan. Sebab bukankah keempat bacaan tersebut masing-masing telah memiliki konteks historis atau latar-belakang (Sitz im Leben) yang berbeda? Untuk masa raya gerejawi seperti Aden, Natal, Epifani, Pra-Paska, Paska, Kenaikan Tuhan dan Pentakosta seluruh pembacaan Alkitab harus diarahkan kepada peristiwa dan karya Kristus. Sehingga bacaan pertama dari Perjanjian Lama, Antar Bacaan dan bacaan kedua dari surat-surat rasuli memang secara sengaja diarahkan kepada karya Allah yang telah terjadi dalam diri Kristus sebagaimana yang termuat dalam kisah Injil pada hari Minggu tersebut. Dalam hal ini pengkhotbah menyadari adanya perbedaan esensial konteks dan latar-belakang setiap bacaan, lalu dia menarik (“decontextualizing”) satu atau beberapa paradigma teologis dari keempat bacaan yang telah ditafsirkannya. Langkah berikutnya adalah melakukan “recontextualizing” [5]dari keempat bacaan yang telah ditafsirkan, sehingga dia dapat menemukan atau menciptakan suatu paradigma atau pemahaman teologis yang baru (“a new ecclesial genre”) yang ditempatkan dalam konteks dan pesan utama dari peristiwa masa raya gerejawi tersebut. Dengan kata lain paradigma atau pemahaman teologis yang baru tersebut juga perlu ditempatkan dalam konteks peristiwa liturgis saat itu. Dengan demikian umat tidak lagi melihat firman yang dipersaksikan oleh keempat bacaan sebagai peristiwa sejarah masa lalu, tetapi benar-benar menjadi firman Tuhan yang hidup dan nyata dalam kehidupan masa kini. Untuk Minggu Biasa (Ordinary Time) setelah hari Pentakosta, pengkhotbah dapat memilih salah satu bacaan leksionari dan mendalamiya, lalu menghubungkan dengan kehidupan dan konteks kehidupan jemaat masa kini. Jadi, dalam Minggu Biasa (Ordinary Time), pengkhotbah dimungkinkan untuk membahas suatu bacaan Alkitab tertentu secara ekspositoris.
9. Penggunaan Tema Dalam Khotbah Leksionari Dari daftar bacaan di satu hari minggu, kita dapat membuat tema-tema khotbah yang berbeda-beda. Sebagai contoh, Dianne Bergant dan Richard Fragomeni dalam buku berjudul “Preaching the New Lectionary” (Year B) [6] mengusulkan beberapa tema khotbah untuk bacaan yang sama. Pada Minggu Advent I dengan bacaan Yes. 64:1-9; Mzm. 80:1-7, 17-19; I Kor. 1:3-9; Mark. 13:24-37 diusulkan tema “Waiting with patient expectation” atau alternatif tema lain: “The Coming of the Day of the Lord”. Pola penyusunan khotbah yang menggunakan tema dari pembacaan Leksionari juga terlihat pada “The Minister’s Manual 2007.” Misalnya: Minggu, 27 Mei 2007 dengan bacaan Kis. 2:1-21/Kej. 11:1-9; Mzm. 104:24-34; Rom. 8:14-17; Yoh. 14:8-17, 25-27 temanya “The Anointing of the Spirit”. [7] Dengan demikian penyusunan khotbah leksionari sebenarnya tidaklah “anti tema”, asalkan tema-tema khotbah tersebut muncul dari penggalian keempat teks untuk hari-hari raya gerejawi dan/atau penggalian dari satu teks bacaan tertentu padak masa Minggu Biasa (Ordinary Time). Jadi penetapan tema bersama (seperti yang tertera di Buku Rancangan Khotbah GKI) diharapkan dapat membantu dan mengarahkan jemaat kepada tujuan dan pembahasan bersama yang hendak digumuli secara sinodal. [1] The Revised Common Lectionary yang diterbitkan oleh Consultation on Common Texts for Year B, Abingdon Press, Nashville, 1992, hal. 49 [2] Preaching The Revised Common Lectionary hal. 24: “Indeed, Ordinary Time seems to change the focus from the narrative of salvation to an exploration of the Bible, wherein whole sections are read at length over a span of Sundays. The clear connections between the Gospel readings and the other lesson largely disappear” [3] Preaching the Revised Common Lectionary, hal. 39 [4] Lihat The Episcopal Church and the Revised Common Lectionary, prepared by the Standing Commission on Liturgy and Music. Questions about the Revised Common Lectionary to Clay Morris in the Office for Liturgy and Music at the Episcopal Church Center 800-334-7626 (lihat di: www.ecusa.anglican.org). [5] Dianne Bergant bersama dengan Richard Fragomeni yang berjudul “Preaching the New Lectionary” (Year B) dalam Introduction. [6] Dianne Bergant bersama dengan Richard Fragomeni yang berjudul “Preaching the New Lectionary” (Year B) dalam pembahasan mengenai Minggu Advent pertama. [7] The Minister’s Manual 2007, edited by James W. Cox dan Lee McGlone, Published by Jossey-Bass A Wiley Imprint 989 Market Street, San Francisco, CA 94103-1741 www.josseybass.com
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 3268 Trackback(0)
Comments (0)
![]() Write comment
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||


















