Minggu, 20 Mei 2012
 
 

Buku Tamu

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini659
mod_vvisit_counterKemarin894
mod_vvisit_counterMinggu ini659
mod_vvisit_counterMinggu lalu6378
mod_vvisit_counterBulan ini17589
mod_vvisit_counterBulan Lalu22262
mod_vvisit_counterTotal441249

Online (20 minutes ago): 23
Your IP: 38.107.179.230
,
Now is: 2012-05-20 17:35

Waktu Anda

Ulti Clocks content

Ayo Gabung!!

G. Sinabung 2010

Statistics

Anggota : 2805
Konten : 271
Web Link : 6
Jumlah Kunjungan Konten : 1548123

Pengguna terkini

Vorenrina - 14.01.12 jam19:53 
Duelatettef - 18.12.11 jam02:50 
asi - 22.10.11 jam11:36 
loackdreall - 12.10.11 jam20:14 
thashibRato - 08.10.11 jam14:34 
toekangmodem03 - 27.09.11 jam03:44 
oxypokedlep - 10.06.11 jam04:28 
vutsOvats - 08.06.11 jam21:20 
Bendexhaund - 08.06.11 jam13:32 
Boantaniolern - 26.02.11 jam20:15 

Ho Do Tuhan

Yahoo Ping Box

Pulo Samosir


Ads on: Special HTML

Boru Panggoaran


Ads on: Special HTML

Borhat Ma Dainang


Ads on: Special HTML

O Tano Batak


Ads on: Special HTML

Anakku Na Burju


Ads on: Special HTML

Binjai Maps

Marhaban Polling

KITAB PENGKHOTBAH PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Admin   
Senin, 27 Juli 2009 00:36

Nama asli dalam bahasa Ibrani adalah Qo Helet, sedangkan bahasa Inggrisnya adalah Ecclesiastes. Qo Helet dapat berarti seseorang yang jabatannya adalah meneliti, memeriksa dan mengajar orang lain (dalam hal ini jema’at)

 

Lihat Pasal 1:12,13 “Aku pengkhotbah adalah raja Israel di Yerusalem. Aku membulatkan membulatkan hatiku untuk memeriksa dan menyelidiki dengan hikmat segala yang terjadi di bawah langit”. Pengkhotbah adalah seseorang yang bekerja keras melalui akal budinya yang tinggi. Ia telah melihat segala perbuatan dan pekerjaan di bumi ini dan ia berkesimpulan bahwa segala sesuatu itu sia-sia belaka. Apa memang demikian halnya? Lalu bagaimana dengan segala usaha, pekerjaan dan hasil-hasil yang manusia peroleh selama ini dengan melalui kerja keras, latihan, belajar dan mengembangkan hidup? Namun selebihnya pengkhotbah memperkenalkan diri sebagai anak Daud dan raja di Yerusalem.

Ada yang berpendapat bahwa ia adalah raja yang berkuasa, memiliki prestasi dalam segala bidang. Ada pula pendapat bahwa sekalipun ia seorang raja, namun ia telah lanjut usia dan sebagai orang yang lanjut usia ia meninjau kembali segala sesuatu di dalam kehidupan di dunia ini. Memang ia berhitmat pula sehingga ia dapat menulis dengan perkataan-perkataan yang luar biasa bermakna dan ia melihat bahwa hidup ini ada masa dan waktunya. Sama seperti  kala yang dialaminya selama ini bahwa segala sesuatu itu ada masa dan waktunya (masa ialah yang diartikan dengan zaman, sedangkan waktu diartikan dengan ETH), artinya ada sesuatu yang lebih panjang, yaitu zaman dan ada sesuatu yang lebih pendek, yaitu ETH. Pasal 3:1-15 berisikan keunikan zaman dan waktu yang didefinisikan secara baik dan penuh kebesarannya. Siapakah yang membayangkan bahwa zaman dan waktu itu begitu berarti dan bermakna bagi kehidupan manusia dewasa ini.

  • Ada waktu untuk lahir
  • Ada waktu untuk meninggal
  • Ada waktu untuk menanam
  • Ada waktu untuk mencabut yang ditanam
  • Ada waktu untuk menyembuhkan
  • Ada waktu untuk menangis
  • Ada waktu untuk tertawa
  • Ada waktu untuk meratap
  • Ada waktu untuk menari, dan sebagainya

 

Di sini kita menemukan sebuah definisi tentang waktu yang kaya dan keunikannya sendiri. Barangkali ini pula contoh yang baik untuk semua lanjut usia di muka bumi yang sudah harus memikirkan tentang saat waktu dan zaman mereka, yaitu tentang soal suka cita, tentang waktu-waktu pergumulan, bahkan saat meninggalnya nanti.

 

Apakah semua waktu dan zaman ini sia-sia? Jika kita adakan evaluasi terhadap hidup, pengkhotbah sebenarnya cukup berhasil dan baik. Namun mengapa ia merasakan sebagai sesuatu kekecewaan belaka? Lalu ia berkesimpulan apa gunanya semua ini?

 

Bahwa segala sesuatu itu berputar-putar dan terkurung di dalam dunia nyata, dan bahwa manusia dapat merasakan betapa hidup ini bisa mujur dalam kemalangannya, namun ia juga sadar bahwa hidup ini bisa merana dalam kemalangannya juga. Namun ia sadar juga bahwa hidup ini terbatas dan bahwa besar dan kecilnya bahkan dalam keadaan serba sedikit harus disyukuri juga dalam batas-batasnya yang diberikan Tuhan kepada umat manusia. Sebab  bagaimanapun Allah telah menciptakan segala sesuatu baik bahkan segala umat baik (Kitab Kejadian:1:31). Dan karena umat harus mensyukurinya, meskipun dalam batas-batas tertentu. Dengan perkataan lain, kemujuran hidup biarpun sedikit harus diterima dengan rasa syukur.

 

 

Pasal 3:13

Bahwa setiap orang dapat makanan, minum dan menikmati kesenangannya dalam jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah

 

Pasal 2:24

Tidak ada yang lebih baik bagi manusia daripada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya, aku menyadari bahwa inipun dari Allah

 

Dan tentu Allah menghendaki manusia menikmati dengan rasa syukur  segala penciptaan-Nya, berupa makanan dan minuman yang adalah hasil-hasil dari jerih payah mereka. Dan yang paling utama adalah takut kepada Allah, itulah hidup sebenarnya.

 

“Sebab Allah saja yang akan menghakimi segala sesuatu yang dahulu dilakukan di hidup ini, entah yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat (bandingkan Pasal 12:13,14)”

 

Apakah hidup sebagai raja belum berbahagia? Apakah hidup sebagai saorang penguasa di kota besar seperti Yerusalem belum berbahagia dengan segala fasilitasnya? (bandingkan Pasal 1:12). Dan pada akhirnya ia mengatakan : segala sesuatu adalah kesia-siaan dan hanya seperti usaha menjaring angin saja? Segala sesuatu berputar-putar dari pagi hingga malam dan aku berputar-putar tak tentu ujungnya? Dan itu sia-sia kah?

Pendirian yang serba pesimistis seperti ini serba muram dan gelap. Apakah ada berita buat kita yang menjelang hidup lanjut usia  saat ini? Dan apakah manfaatnya jika kisah ini dipersembahkan kepada anak-anak kita dewasa ini, yaitu generasi muda? Barangkali generasi tidak bersemangat lagi apabila membaca dan mempelajari isi Kitab Pengkhotbah.

Mungkin yang tua seperti kita inilah yang menyukai isi Kitab Pengkhotbah. Dan ada satu nasihat saja kepada yang muda.

 

 

Nikmatilah hidup ini sebaik-baiknya penuh semangat dan capailah cita-cita kalian setinggi langit.

Ingatlah Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba ….. (Pasal 12:1-2)

 

 

Apa arti masa depan bagi Pengkhotbah?

            Rupanya ia sangat ragu-ragu

Ia tidak tahu apa nanti ada masa depan sesudah kematian. Ia mengatakan: “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah bahwa hari malang dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya (bandingkan Pasal 7:14)”.

 

Pengalaman dan pengamatan kita semua hari ini tentu tidak berbeda jauh dengan pandangan Pengkhotbah. Dalam hati kecil kita masih banyak pertanyaan yang harus dijawab, terutama mengenai apakah sebenarnya manfaat dari hidup percaya? Apa gunanya hidup beriman di tengah-tengah perbedaan yang tiap hari muncul? Apa ada manfaatnya percaya? Mungkin pendapat kita akan tidak jauh berbeda dengan pandangan Ayub yang pada akhir pergumulannya berada di dalam lingkar rahasia Allah. Karena rahasia Allah jauh tidak terjangkau oleh akal dan pikiran kita, sama seperti Pengkhotbah kitapun berada di dalam cobaan hidup di dalam kegelapan yang hanya dapat berdiri tegak dan bertahan apabila kita percaya kepada Tuhan yang menciptakan kita. Tuhan yang tidak saja menciptakan kita, tetapi akan  tetap membimbing kita sampai ke liang kubur dan di sana Dialah yang akan membangkitkan kita demi kehidupan kekal (bandingkan 1 Korintus 15) sehingga kematian bagi manusia bukan akhir dari perjalanan, namun permulaan dari hidup baru bersama Kristus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trackback(0)
Comments (0)Add Comment

Write comment

security code
Write the displayed characters


busy