|
Kita mungkin seringkali menemukan barang yang kelihatan asli tetapi sebenarnya palsu. Barang palsu biasanya dibuat sedemikian rupa sehingga mendekati wujud aslinya. Kalau kita tidak teliti memperhatikan maka bisa saja tertipu. Barang palsu memang dibuat untuk menipu mata juga rasa kita, bahkan kalau bisa menipu pendapat kita bahwa ia memang benar-benar asli. Bagaimana caranya membedakan barang yang palsu dengan yang asli. Pertama, kita harus mengetahui yang asli terlebih dahulu. Bagaimana bentuk, warna, rasa, dan dari apa saja dia dibuat, dan lain sebagainya. Jika kita sudah mengetahui secara mendetail akan barang yang asli, maka saat disodorkan barang yang palsu kita dapat dengan cepat menyadari kepalsuan dari barang tersebut. Kedua, kita mengetahui sumber dari barang yang asli. Dari mana saja barang yang asli diproduksi. Ketiga, siapa yang memproduksinya. Jadi, kita perlu mengenal atau mengetahui barang yang asli barulah bisa membedakan dari barang yang palsu.
Demikian juga di akhir zaman, akan muncul banyak sekali pengajar-pengajar yang ASPAL = asli tetapi palsu. Tuhan Yesus telah memperingatkan kepada murid-murid-Nya tentang para pengajar sesat. Ayat-ayat yang kita baca hari ini menggunakan tiga istilah untuk para penyesat itu, yaitu Mesias Palsu, Nabi Palsu dan Guru Palsu. Semua nama profesi yang ditambahkan dengan istilah PALSU. Palsu lawan dari asli. Bahasa Yunani menggunakan kata Pseudo untuk istilah palsu. Pseudo artinya kelihatan asli tetapi sebenarnya bukan asli. Para penyesat ini akan menyesatkan orang-orang yang percaya. Mereka akan masuk di tengah-tengah orang percaya untuk memberikan pengajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa dia adalah seorang guru palsu, mesias palsu atau nabi palsu di zaman ini? Melalui terang firman Tuhan hari ini kita belajar bagaimana mengidentifikasi para penyesat umat Allah atau orang percaya. Mari kita simak ketiga istilah yang digunakan. 1. MESIAS Markus menggunakan istilah Mesias dan Nabi palsu. Mesias artinya oang yang diurapi. Jikalau orang Yahudi berbicara Mesias maka ia mengacu pada orang yang diurapi oleh Allah, orang yang diutus oleh Tuhan untuk melawat umatnya. Raja-raja Israel seperti raja Saul, Daud dan Salomo, sebelum menjadi raja, mereka dipilih dan diurapi oleh nabi. Jadi urapan yang diberikan merupakan tanda sah bahwa dia dipilih oleh Tuhan untuk menjadi raja. Pada zaman Tuhan Yesus, orang Yahudi sedang menantikan kedatangan Mesias. Mesias ini seperti raja yang berkuasa, yang akan membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Pemahaman mereka akan Mesias adalah Raja yang diurapi Tuhan yang akan datang memberikan kebebasan. Dalam catatan kelahiran Tuhan Yesus di Injil Matius, Herodes bertanya dimana mesias akan dilahirkan. Mat. 2:4 “Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.” Kemudian, Petrus dalam pengakuan tentang jati diri Tuhan Yesus menyebut Tuhan Yesus adalah Mesias. Mat 16:16: Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Jadi, di dalam pengajaran Alkitab, mesias mengacu kepada diri Tuhan Yesus. Lukas 2:25-26: “Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Dia yang adalah Allah datang ke dunia untuk melawat umat-Nya. Dia yang diurapi dan yang diutus oleh Allah.” Jika ada orang yang mengaku dirinya Mesias, maka kita harus dengan teliti melihat apa yang dikatakan Kitab Suci. Mesias sudah datang yaitu Tuhan Yesus sendiri. Selain itu, berarti bukan Mesias alias mesias palsu. Oleh sebab itu, Tuhan Yesus telah memperingatkan murid-murid-Nya untuk berhati-hati. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang . . . dan akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan" (Matius 24:38). 2. NABI Kata nabi di dalam PL dipakai lebih dari 300 kali dan dalam PB lebih dari 100 kali. Nabi dalam Perjanjian Lama adalah orang yang menjadi perantara antara Allah dan umat Israel. Dia adalah juru bicara Allah. Dia menerima pesan atau perintah dari Allah kemudian dia menyampaikan pesan atau perintah itu kepada umat Israel. Misalnya nabi Elia diutus Tuhan untuk menyampaikan firman-Nya kepada Raja Ahab, 1 Raja-raja 17:1: Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: "Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan." Kemudian Elia diperintahkan Tuhan ke rumah janda di Sarfat, 1 Raj. 17:8-9: Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan." Nabi harus menyampaikan apa yang Tuhan perintahkan. Samuel dipanggil menjadi nabi pada waktu masih muda. Tuhan berfirman kepada Samuel tentang hukuman atas keluarga Eli. Samuel menyampaikan kepada Eli. 1 Samuel 3:18: Lalu Samuel memberitahukan semuanya itu kepadanya dengan tidak menyembunyikan sesuatupun. Kemudian Eli berkata: "Dia TUHAN, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik." Nabi yang benar adalah nabi yang diutus Tuhan. Nabi palsu adalah nabi yang tidak diutus Tuhan. Contohnya, pada zaman raja Yosafat, saat kerajaan Israel Selatan dan Utara berencana merebut tanah Ramot-Gilead dari orang Aram. Padahal waktu itu 3 tahun masa damai dan tidak ada perang. Raja Israel mengajak raja Yehuda, yaitu Yosafat untuk merebut daerah tersebut. Namun, Raja Yosafat ingin hal ini ditanyakan kepada nabi. Kemudian dipanggillah para nabi untuk melihat pendapat mereka. 1 Raj. 22:11-12 maka Zedekia bin Kenaana membuat tanduk-tanduk besi, lalu berkata: "Beginilah firman TUHAN: Dengan ini engkau akan menanduk Aram sampai engkau menghabiskan mereka." Juga semua nabi itu bernubuat demikian, katanya: "Majulah ke Ramot-Gilead, dan engkau akan beruntung; TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja." Apa yang disampaikan para nabi ini ternyata tidak meyakinkan raja Yosafat. Dia menanyakan apakah tidak ada nabi lain di negeri Israel. Maka dipanggillah nabi Mikha. Nabi Mikha menubuatkan hal yang berbeda. 1 Raj. 22:14: Tetapi Mikha menjawab: "Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan TUHAN kepadaku, itulah yang akan kukatakan." 1 Raj. 22:17: Lalu jawabnya: "Telah kulihat seluruh Israel bercerai-berai di gunung-gunung seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala, sebab itu TUHAN berfirman: Mereka ini tidak punya tuan; baiklah masing-masing pulang ke rumahnya dengan selamat." Apa yang disampaikan nabi Mikha tidak sama dengan nabi Zedekia dan kawan-kawannya. 1 Raj. 22:24: Sesudah itu tampillah Zedekia bin Kenaana, ditamparnyalah pipi Mikha serta berkata: "Mana boleh Roh TUHAN pindah dari padaku untuk berbicara kepadamu?" Selanjutnya, mereka berperang melawan orang Aram. Raja Ahab, raja Israel Utara yang menyamar akhirnya mati dalam pertempuran oleh busur panah. Sementara raja Yosafat selamat. Mana nabi yang benar? Zedekia atau Mikha? Ternyata Mikha adalah nabi yang diutus Allah. Sayang sekali dia tidak didengarkan. Di akhir zaman akan muncul nabi-nabi yang palsu, seperti cerita dalam 1 Raj. 22 ini. Orang-orang yang mengaku dirinya adalah nabi yang diutus Tuhan, yang mendapatkan penglihatan, atau mendapatkan wahyu khusus dari Tuhan. Kita sebagai orang percaya harus berhati-hati. Jangan mudah kita percaya. Kita mesti mengecek kembali melalui terang kebenaran yang diajarkan oleh kitab Suci. Pada zaman kita, sudah tidak ada nabi, mengapa? Oleh sebab, firman Tuhan, yaitu Alkitab yaitu wahyu Allah ini sudah lengkap dan tidak perlu lagi ditambahkan. Isi Alkitab tidak boleh dikurangi atau ditambah. Alkitab merupakan firman Tuhan, yang di dalamnya sebuah rencana Allah bagi umat manusia sudah jelas. Fungsi nabi masih kita temukan, yaitu melalui hamba-hamba Tuhan yang mengkhotbahkan firman Tuhan, bukan mengkhotbahkan pengalaman mistik atau cerita-cerita yang lain. 3. GURU Kata guru tentu kita tidak asing lagi. Di sekolah kita akrab dengan istilah guru. Akhir-akhir ini kita pun banyak membaca tentang guru. Pendidikan dan guru tidak dapat dipisah. Guru dan murid pun tidak dapat dipisahkan. Guru adalah orang yang tugasnya mengajarkan pengetahuan. Lebih dalam dia juga mengajarkan kebenaran melalui seluruh hidupnya. Guru yang baik akan mengajar dengan baik. Guru yang benar akan mengajarkan apa yang benar. Guru bisa jadi adalah singkatan dari digugu dan ditiru, dia akan menjadi contoh hidup bagi murid-murid yang diajarnya. Sungguh suatu profesi yang mulia. Di Alkitab kita menemukan ada juga yang menjadi guru. Paulus mengatakan bahwa ada banyak sekali karunia. Salah satu karunia adalah mengajar. Dalam Roma 12:7b Paulus mengatakan, “jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar.” Mengajar adalah tugas utama seorang guru. Kalau guru mengajarkan kebenaran maka murid akan mendapat kebenaran. Namun jika guru mengajarkan ketidakbenaran maka muridpun akan mendapatkan ketidakbenaran. Jadi Guru berpengaruh terhadap hidup orang yang diajarnya. Bayangkan kalau guru yang mengajar adalah guru yang tidak benar alias guru palsu, dia hanya mengajarkan ketidakbenaran atau hal-hal yang menyimpang dari kebenaran, maka murid-muridnya akan mendapatkan ketidakbenaran. Dengan kata lain, murid-murid akan disesatkan. Petrus menegaskan dalam surat keduanya, bahwa guru-guru palsu akan menyesatkan orang-orang percaya. Mereka memberikan pengajaran yang sesat kepada orang-orang percaya. Pengajaran sesat seperti apa? Yaitu pengajaran yang menyangkal akan karya penebusan Kristus bagi keselamatan orang percaya. 2 Peter 2:1 “Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka” Kita tahu bahwa keselamatan yang kita peroleh adalah anugerah dari Tuhan. Itu bukan usaha kita sendiri tapi anugerah/karunia dari Allah melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib. Kematian Kristus, cucuran darahnya telah membasuh dosa kita. Setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus akan ditebus dan diselamatkan dan mendapatkan janji hidup yang kekal. Setelah kita memahami tiga profesi yang dipakai dalam bacaan kita hari ini, yaitu mesias, nabi dan guru maka kita akan melihat bagaimana caranya kita menditeksi bahwa itu asli atau palsu. Jawaban sederhanya adalah kita mengetahui, mengenal, memahami, yang asli baru kita bisa kenal yang palsu. Di dalam buklet yang berjudul “Bagaimana mengidentifikasi kelompok agama yang berbahaya” yang ditulis oleh Martin R. De Haan II, menjelaskan bahwa: Gereja yang memiliki pengajaran yang benar adalah: - gereja yang menekankan otoritas Alkitab (2 Tim 3:16-17)
- gereja yang dipimpin seorang yang disiplin tetapi lemah lembut (1Pet. 5:1-3)
- gereja mengajarkan hubungan sosial yang baik dengan sesama (1Pet. 2:11-17)
- gereja yang mengajarkan kasih dan hormat pada anggota keluarga. (Mat. 10:34-37)
- gereja yang berfokus pada Kristus (2Kor. 4:5-6)
- gereja yang benar menghormati pemerintah (Rom. 13:1-7)
Dengan kriteria yang sederhana ini, kita dapat menditeksi apakah sebuah ajaran atau sebuah gereja benar sesuai pengajaran kitab suci atau tidak. Jika iya maka kita bisa menerimanya, jika tidak ya kita harus menolak. Alkitab berkata, “di akhir zaman akan muncul banyak sekali penyesat yang tujuannya menyesatkan setiap orang percaya.” Kita harus hati-hati dan berjaga-jaga. Sebagai orang percaya, kita perlu terus menerus mempelajari firman Tuhan. Kita ikut kelas-kelas Pembinaan, atau kelompok-kelompok PA, kita mendengarkan kaset-kaset khotbah yang benar, serta baca buku-buku rohani yang membangun. Bukankah gereja sudah menyediakan perpustakaan. Di perpustakaan kita bisa menemukan buku, cd, vcd, dvd, dan media lainnya yang bisa membantu kita untuk semakin kenal Tuhan. Semua yang tersedia bisa digunakan untuk membangun iman kita, membangun pemahaman yang benar dan kokoh, sehingga pada saat ada ajaran-ajaran yang tidak benar, kita dengan mudah mengetahuinya. Jika kita tidak mempelajari firman Tuhan dan membaca buku-buku rohani yang bermutu, serta mendengarkan khotbah-khotbah maka kita hanya menjadi sekedar orang percaya yang mudah diombang-ambingkan oleh pengajaran-pengajaran yang tidak benar. Sebagai penutup khotbah ini kita simak cerita berikut ini: SOCRATES DAN PENGETAHUANNYA Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat. Suatu hari seorang kenalannya bertemu dengan filsuf besar itu dan berkata, “ Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?” “Tungggu beberapa menit,” Socrates menjawab. “Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana. Ini disebut Triple Filter Test.” “Triple Filter?” “Benar,” kata Socrates. “Sebelum kita bicara tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya triple filter test.” Filter pertama adalah KEBENARAN. “Apakah Anda yakin sepenuhnya bahwa yang akan Anda katakan pada saya benar?” “Tidak,” jawab orang itu, “sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu." “Baik,” kata Socrates. “ jadi Anda tidak yakin bila itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua, filter KEBAIKAN. Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?” “Tidak, malah sebaliknya …” “Jadi,” Socrates melanjutkan, “Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi karena masih ada satu filter lagi, yaitu filter KEGUNAAN. Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?” “Tidak, sama sekali tidak.” “Jadi,” Socrates menyimpulkan, “ bila Anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, buruk dan bahkan tak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya pada saya?” Itulah mengapa Socrates adalah filsuf besar dan sangat terhormat. Saudara-saudara marilah kita selalu mengacu kepada kebenaran firman Tuhan. Setiap pengajaran dapat kita uji. Seperti dalam 1Yohanes 4:1 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Sumber : www.gkkb-pontianak.org/.../23AkhirZaman:NabiPalsudenganTandadanMujizatnya.doc
Trackback(0)
 |